JAKARTA, AFU.ID - Setelah berbulan-bulan dunia dicekam perang, blokade laut, dan ancaman krisis energi global, Amerika Serikat dan Iran akhirnya mulai memperlihatkan sinyal paling serius menuju perdamaian. Selat Hormuz—urat nadi distribusi minyak dunia—disebut akan kembali dibuka.
Laporan New York Times mengutip pejabat Amerika Serikat yang menyebut Washington dan Teheran secara prinsip telah mencapai kesepakatan awal. Iran disebut bersedia memusnahkan uranium yang diperkaya tinggi, sementara Amerika Serikat akan membuka kembali jalur pelayaran menuju pelabuhan-pelabuhan Iran.
Kesepakatan itu memang belum diteken. Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei masih memegang keputusan akhir. Namun aroma kompromi mulai terasa setelah berbulan-bulan kawasan Timur Tengah hidup di bawah bayang-bayang perang terbuka.
Selama konflik berlangsung, Selat Hormuz berubah menjadi titik paling menegangkan di muka bumi. Jalur sempit itu menjadi lintasan hampir seperlima pasokan minyak dunia. Ketika kapal-kapal mulai berhenti melintas dan blokade diberlakukan, harga energi global melonjak, pasar keuangan limbung, dan negara-negara pengimpor minyak dipaksa berjaga.
Kini arah angin mulai berubah.
Pejabat Washington yang dikutip sejumlah media Amerika menyebut pembicaraan berlangsung lebih serius dibanding negosiasi-negosiasi sebelumnya. Bahkan pemerintahan Trump disebut mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap Iran jika Teheran benar-benar menyerahkan konsesi soal uranium.
“Rencana kami adalah menangani seluruh pasokan material yang diperkaya milik mereka,” kata pejabat AS tersebut.
Di balik meja diplomasi, nama-nama besar ikut bermain. Wakil Presiden AS JD Vance, Utusan Timur Tengah Steve Witkoff, hingga Jared Kushner dilaporkan ikut terlibat dalam pembicaraan yang berjalan tertutup.
Washington juga memastikan tidak akan ada “tarif tol” di Selat Hormuz, isu yang sebelumnya sempat memicu ketegangan baru. Amerika Serikat bersama negara-negara Teluk disebut akan berkoordinasi menjaga keamanan jalur pelayaran jika kesepakatan benar-benar berlaku.
Meski demikian, jalan damai belum sepenuhnya mulus.
Kesepakatan awal ini belum menyentuh isu rudal Iran maupun penghentian total pengayaan uranium. Dua isu itu masih akan dibahas dalam putaran negosiasi berikutnya. Namun bagi dunia internasional, sinyal pembukaan Hormuz saja sudah cukup membuat pasar mulai tenang.
Di tengah perang yang menyeret Lebanon, Israel, dan memicu kecemasan global, kesepakatan ini seperti jeda napas di antara bunyi sirene dan dentuman misil.
Untuk pertama kalinya sejak konflik meledak Februari lalu, dunia melihat kemungkinan bahwa Timur Tengah tidak selalu harus berakhir dengan asap dan reruntuhan. (*)