JAKARTA, AFU.ID – Ribuan pelayat membawa spanduk merah dan meneriakkan seruan balas dendam saat prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei dimulai di Teheran, Iran. Upacara itu menjadi panggung duka sekaligus penegasan sikap Iran di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Massa memadati kompleks keagamaan Grand Mosalla sejak pagi untuk menunggu kedatangan peti jenazah pemimpin tertinggi Iran tersebut. Teriakan “Matilah Amerika” dan “balas dendam” menggema di lokasi, sementara spanduk merah yang dibawa pelayat menjadi simbol tuntutan pembalasan dalam tradisi politik dan keagamaan Iran.
Pemerintah Iran memperkirakan 15 juta hingga 20 juta orang akan datang memberi penghormatan terakhir di Teheran dalam tiga hari ke depan. Prosesi pemakaman dijadwalkan berlangsung selama enam hari dan disebut menjadi salah satu acara publik terbesar Iran sejak pemakaman Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1989.
Sejumlah ruas jalan di sekitar lokasi ditutup dan pengamanan diperketat, termasuk pembatasan akses menuju pusat kota. Jurnalis AFP melaporkan ratusan warga sudah menunggu sejak Jumat malam, bahkan sebagian berjalan beberapa kilometer untuk mencapai Grand Mosalla. “Kami ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada pemimpin kami, itulah sebabnya menunggu seperti ini tidak menyakitkan atau sulit bagi kami,” kata seorang pelayat bernama Somayye Hamedi, Sabtu (4/7/2026).
Setelah rangkaian penghormatan di Teheran, peti jenazah Khamenei dijadwalkan dibawa berkeliling ibu kota sebelum dipindahkan ke Qom. Prosesi kemudian berlanjut ke kota-kota suci Syiah di Irak dan berakhir di Mashhad, kota kelahiran Khamenei, tempat ia akan dimakamkan.
Kehadiran pelayat dalam jumlah besar, simbol pembalasan, serta tamu dari negara dan kelompok sekutu Teheran membuat pemakaman ini tak hanya menjadi ritual keagamaan. Iran juga memanfaatkan momen tersebut untuk menunjukkan dukungan publik dan menjaga pesan perlawanan terhadap musuh-musuhnya tetap hidup. (RHU)