JAKARTA, AFU.ID — Sedikitnya 47 orang tewas dan 97 lainnya luka-luka akibat serangan udara intensif Israel di berbagai wilayah Lebanon. Data terbaru ini dirilis Pusat Operasi Darurat Kesehatan Masyarakat Lebanon, mencakup serangan yang berlangsung sejak tengah malam hingga sore waktu setempat pada Jumat (19/6/2026).
Pusat tersebut menyebut serangan menghantam sejumlah wilayah di Lebanon selatan dan timur, termasuk distrik Nabatieh, Tyre, Bint Jbeil, Jezzine, dan Baalbek. Beberapa korban tewas merupakan korban serangan udara di sebuah pertanian di Jamaliyeh, Distrik Baalbek, sementara korban lainnya dilaporkan akibat serangan drone di Rihan, Distrik Jezzine, dan di sepanjang jalan raya Deir al-Zahrani-Nabatieh.
Serangan ini terjadi meski belum lama berselang Amerika Serikat (AS) dan Iran menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) yang menetapkan penghentian operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon, pada (17/6).
Menanggapi hal tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengecam keras serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon. Ia menegaskan penghentian perang di Lebanon secara eksplisit menjadi bagian "integral" dari MoU AS-Iran, dan menyebut AS bertanggung jawab langsung atas situasi yang terjadi saat ini di Lebanon, pada (19/6).
Baghaei menambahkan, Iran akan mengambil seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingan, keamanan, dan hak-haknya, termasuk kepentingan, keamanan, dan hak-hak negara sekutunya, pada (19/6).
Di sisi lain, Channel 12 Israel melaporkan, dengan mengutip seorang pejabat Israel, bahwa Israel dan Hizbullah telah mencapai kesepakatan gencatan senjata, pada (19/6). (ANT/NAD)