JAKARTA, AFU.ID - Di sebuah studio yang lampunya temaram namun hangat, diskusi di kanal Akbar Faizal Uncensored mengalir tanpa jeda. Pertanyaan yang dilempar bukan soal rudal semata, tetapi tentang daya tahan sebuah bangsa yang selama hampir setengah abad hidup dalam tekanan.
Akbar Faizal membuka dengan kegelisahan yang kerap berseliweran di ruang publik: benarkah Iran sekuat yang dibayangkan? Benarkah negeri itu, yang dibelit embargo dan sanksi sejak Revolusi 1979, masih menyimpan “kejutan” berupa sistem persenjataan yang belum pernah diperlihatkan?
Di hadapannya, Andi Widjajanto, mantan Gubernur Lemhannas dan eks Menseskab, menjawab dengan nada tenang. Ia tak memulai dari daftar rudal atau spesifikasi drone. Ia justru menarik garis lebih dalam: center of gravity Iran bukan pada senjata, melainkan pada ideologi dan kepemimpinan.
Sejak tumbangnya Shah pada 1979 dan lahirnya Republik Islam, Iran dipaksa membangun kemandirian. Teknologi militer tak lagi datang dari arus utama Barat. Tekanan politik dan ekonomi membentuk mental bertahan hidup. “Resilience-nya luar biasa,” ujar Andi. Dalam hampir 50 tahun, Iran membuktikan bahwa isolasi tidak selalu berujung pada keruntuhan.
Namun diskusi tak berhenti pada romantisme ketahanan. Andi menyebut, jika ideologi menjadi pusat gravitasi, maka strategi untuk melemahkannya bukan sekadar serangan militer, melainkan counter value—tawaran nilai tandingan. Tanpa program konkret yang menyasar keyakinan kolektif itu, resistensi akan terus tumbuh.
Pertanyaan kemudian mengerucut: bagaimana jika kepemimpinan goyah? Nama Ali Khamenei disebut. Sosok pemimpin tertinggi Iran itu, dalam narasi diskusi, digambarkan sebagai simpul penting antara ideologi dan negara. Jika simpul itu terputus, apakah daya tahannya ikut runtuh?
Andi mengisahkan sebuah potongan video yang beredar di media sosial: seorang anak kecil menyatakan ingin mati syahid. Jawaban sang pemimpin justru sederhana—belajarlah, jadilah ilmuwan, besarkan bangsamu lebih dulu. Bagi Andi, itu bukan sekadar dialog, melainkan cerminan strategic belief: ideologi yang dibumikan lewat pendidikan dan sains.
Di titik itu, diskusi bergerak dari rudal ke jaringan. Iran, kata Andi, menemukan celah untuk bertahan—kerja sama teknologi dengan Tiongkok dan Rusia, relasi dengan aktor non-negara di kawasan, hingga kemampuan membangun aliansi alternatif. Dalam tekanan, mereka belajar beradaptasi.
Di layar, obrolan mengalir tenang. Di luar studio, dunia sedang menyaksikan eskalasi yang belum reda. Namun satu simpul pemikiran mengemuka: kekuatan sebuah negara tak melulu diukur dari daya ledak senjata, melainkan dari daya tahan ideologi dan kemampuan menemukan jalan keluar saat semua pintu terasa tertutup.
Diskusi itu tak menawarkan kesimpulan final. Ia justru meninggalkan renungan: dalam konflik panjang, apa yang sesungguhnya paling sulit ditaklukkan—persenjataan, atau keyakinan yang hidup di kepala dan hati warganya? (bs)