Jakarta, AFU.ID — Lebih dari empat bulan setelah serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel merenggut nyawanya, Iran akhirnya menggelar pemakaman kenegaraan untuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Sayyed Ali Hosseini Khamenei. Prosesi yang akan berlangsung enam hari ini akan menjadi panggung politik terbesar bagi Republik Islam Iran.
Jenazah sang imam yang memimpin Iran selama hampir 37 tahun itu akan disemayamkan di Masjid Agung Mosalla, Teheran, selama tiga hari. Rangkaian acara ini akan dimulai Sabtu (4/7/2026) besok, jenazah akan diarak melintasi Qom, Najaf, Karbala, dan akhirnya akan dimakamkan pada 9 Juli di kompleks Imam Reza Shrine, Mashhad, kota kelahirannya sekaligus salah satu situs tersuci bagi umat Syiah.
Pemerintah Iran memperkirakan sekitar 15 hingga 20 juta orang akan menghadiri prosesi pemakaman ini di Teheran. Peristiwa ini akan menjadi salah satu kerumunan pemakaman terbesar dalam sejarah modern.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam pernyataan resminya menyebut kematian Khamenei telah "membuat seluruh rakyat Iran bersatu", seraya menyerukan persatuan nasional di tengah masa berkabung.
Rundown Upacara Pemakaman
Jumat, 3 Juli di Teheran: Upacara penghormatan untuk delegasi asing
Sabtu-Minggu, 4-5 Juli di Teheran: Jenazah disemayamkan di Grand Mosalla, publik memberi penghormatan
Senin, 6 Juli di Teheran: Prosesi pemakaman utama di ibu kota
Selasa, 7 Juli di Qom: Upacara penghormatan di pusat keagamaan Syiah
Rabu, 8 Juli di Najaf da Karbala, Irak: Prosesi di dua kota suci Syiah
Kamis, 9 Juli di Mashhad: Pemakaman utama di Imam Reza Shrine
Pemerintah Iran sengaja menunda pemakaman selama lebih dari empat bulan mengingat perang yang masih berkecamuk. Selain itu, penundaan ini juga untuk membangun momentum politik. Narasi "syahid" terus dikobarkan, mengubah seorang pemimpin yang wafat karena serangan musuh menjadi martir abadi yang darahnya menuntut balas.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dengan tegas menyerukan pembalasan. Dalam pesan kepada publik, ia mengatakan rakyat Iran tidak boleh diam menghadapi apa yang disebutnya sebagai agresi. Spanduk-spanduk hitam bergambar Khamenei dengan kepalan tangan terangkat menghiasi setiap sudut Teheran, simbol perlawanan yang kini diwariskan kepada generasi berikutnya.
Lebih dari 100 negara mengirimkan delegasi, termasuk Pakistan yang diwakili Perdana Menteri Shehbaz Sharif, serta Rusia dan China. Namun kehadiran para pemimpin dunia hanya menjadi latar bagi pertanyaan yang jauh lebih besar: siapa yang akan menggantikan Khamenei?
Penerus resminya adalah putranya, Mojtaba Khamenei, yang ditunjuk oleh Majelis Ahli tak lama setelah kematian ayahnya. Namun Mojtaba belum terlihat di publik sejak diangkat sebagai pemimpin tertinggi. Bahkan beredar laporan bahwa ia mungkin akan melewatkan pemakaman ayahnya sendiri karena ancaman keamanan.
Pemerintah Iran tidak mau mengambil risiko untuk itu. Mengingat tragedi pemakaman Khomeini pada tahun 1989, di mana kerumunan massa dalam jumlah besar menyebabkan kekacauan yang tak terkendali hingga mengakibatkan banyak korban jiwa. Bahkan, peti jenazah sempat terjatuh. Pengamanan kali ini bakal dibuat sangat ketat.
Puluhan personel keamanan ditempatkan di setiap pintu masuk Grand Mosalla. Hanya mereka yang memiliki izin khusus yang dibolehkan masuk. Puluhan ambulans dan kendaraan pendukung disiagakan di lokasi. Ratusan kotak air minum bakal didistribusikan mengingat suhu udara diperkirakan naik lebih dari 35 derajat Celcius.
Hotel-hotel di Iran menurunkan rencananya akan menurunkan tarif hingga 50 persen khusus disediakan bagi para pelayat. Sementara sekolah, masjid, dan arena olahraga juga akan difungsikan sebagai sarana pendukung, yang juga dapat dipakai tempat penginapan bagi para pelayat.
Penerbangan di atas Teheran akan ditutup sebagian mulai Jumat sebagian, dan pada Senin akan ditutup seluruhnya. Pemerintah Iran juga telah menginstruksikan kepada pegawai pemerintah dan swasta untuk libur mulai Sabtu hingga Senin besok. (EER)