AFU.ID - Langit politik Amerika Serikat tengah berisik. Ribuan warga turun ke jalan, membawa satu pesan yang menggema dari kota ke kota: “No Kings.” Mereka menolak perang, menolak kekuasaan yang dianggap melampaui batas, dan menolak Presiden Donald Trump yang dinilai menyeret negeri itu ke konflik tanpa ujung dengan Iran.
Di tengah gelombang protes itu, percakapan tajam muncul dalam Podcast Madilog Forum Keadilan. Dipandu jurnalis senior Margi Syarif, forum itu menghadirkan Suzie Sudarman, pakar hubungan internasional dari Universitas Indonesia. Suaranya dingin, tapi isinya membakar.
Ia menyebut, apa yang terjadi hari ini bukan sekadar perang biasa. Ada keganjilan yang lebih dalam: rakyat Amerika kini mulai sadar bahwa negara mereka terlibat dalam konflik yang selama ini jauh dari radar kesadaran publik. Berbeda dengan perang Irak di masa lalu, generasi muda—terutama Gen Z—justru menjadi motor protes, memaksa isu ini masuk ke ruang publik.
“Sekarang mereka paham. Mereka malu,” kira-kira begitu pesan yang mengalir dari analisisnya.
Tekanan publik ini, menurutnya, bukan sekadar riak. Ia bisa menjadi gelombang politik menjelang pemilu sela 3 November. Dukungan terhadap Partai Republik terancam tergerus, sementara peluang Partai Demokrat menguat—meski tetap dibayangi konflik internal mereka sendiri.
Namun, yang lebih mencemaskan bukan sekadar elektoral. Ada pergeseran watak kekuasaan. Trump disebut tidak hanya menjalankan kebijakan, tetapi menguji batasnya—mendorong sejauh mungkin apa yang bisa dilakukan seorang presiden di negara adidaya.
Di sisi lain, hubungan sipil-militer pun tak sepenuhnya stabil. Sejumlah jenderal yang menolak operasi darat disebut tersingkir. Friksi itu nyata, meski tidak sampai menjadi pembangkangan terbuka. Sistem hukum Amerika tetap menjadi pagar, tapi pagar itu terus diuji.
Lalu, bagaimana posisi Indonesia?
Di titik ini, percakapan menjadi lebih tajam. Nama Prabowo Subianto ikut terseret. Bukan sebagai aktor utama, melainkan sebagai refleksi. Dalam analisis Sudarman, posisi Indonesia dalam geopolitik global tidak sepenuhnya bebas dari tekanan—terutama ketika rekam jejak masa lalu menjadi celah diplomatik.
Ia bahkan menyebut analogi yang menggigit: “cokok seperti Maduro”—sebuah sindiran bahwa pemimpin bisa saja berada dalam posisi tawar yang lemah ketika berhadapan dengan kekuatan global seperti Amerika.
Kalimat itu bukan sekadar kritik personal, melainkan peringatan struktural: dalam dunia yang dikendalikan kepentingan besar, negara yang tidak percaya diri akan mudah ditekan.
Di ujung diskusi, satu kekhawatiran mengendap: perang ini bisa meluas. Bukan hanya konflik regional, tetapi berpotensi menjadi percikan menuju perang yang lebih besar.
Sementara itu, rakyat Amerika terus bersuara. Mereka menolak diam. Mereka menolak menjadi penonton dari keputusan yang menentukan nasib dunia.
Dan dari jauh, Indonesia seolah dihadapkan pada cermin: apakah akan terus melihat ke luar, atau mulai membangun kekuatan dari dalam. (*)