JAKARTA, AFU.ID — Konflik berkepanjangan antara Israel dan Lebanon menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat besar bagi Beirut. Pemerintah Lebanon memperkirakan dampak perang telah menggerus perekonomian negara sebesar 20 miliar dolar AS atau sekitar Rp355,5 triliun.
Menteri Ekonomi Lebanon Amer Bisat mengatakan kerusakan paling parah terjadi di wilayah selatan Lebanon yang selama berbulan-bulan menjadi salah satu pusat eskalasi konflik. Menurutnya, perang tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan aset fisik, tetapi juga memukul berbagai sektor produktif yang menjadi penopang ekonomi negara.
“Perang telah menyebabkan kerusakan yang meluas, terutama di bagian selatan negara ini. Kerugian diperkirakan sekitar 20 miliar dolar AS,” kata Bisat kepada RIA Novosti. Selain kerusakan langsung, Lebanon juga menanggung kerugian ekonomi tidak langsung dalam jumlah besar.
Aktivitas bisnis yang terganggu, penurunan investasi, hingga melemahnya daya beli masyarakat memperburuk kondisi ekonomi yang sebelumnya sudah tertekan oleh krisis berkepanjangan.Perekonomian Lebanon saat ini menyusut hampir separuh dibandingkan sebelum negara itu dilanda berbagai krisis. Nilai ekonomi nasional yang sebelumnya berada di kisaran 55 hingga 57 miliar dolar AS kini turun menjadi sekitar 32 miliar dolar AS.
Konflik juga memicu penutupan sejumlah perusahaan dan fasilitas industri di berbagai wilayah. Aktivitas produksi mengalami gangguan serius akibat ketidakpastian keamanan dan kerusakan infrastruktur. Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terdampak. Pemerintah Lebanon mencatat sekitar 28 persen lahan pertanian berhenti berproduksi akibat konflik, sehingga memengaruhi pasokan pangan sekaligus pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor tersebut.
Di sisi lain, industri pariwisata yang selama ini menjadi salah satu sumber devisa utama Lebanon turut mengalami pukulan berat. Menurunnya jumlah wisatawan membuat aktivitas ekonomi di sektor jasa dan perhotelan ikut melemah.
Kerugian di sektor pariwisata saja diperkirakan mencapai dua miliar dolar AS atau sekitar Rp35,5 triliun. Nilai tersebut setara dengan sekitar tujuh persen dari produk domestik bruto (PDB) Lebanon, menunjukkan besarnya dampak perang terhadap ekonomi nasional.
Konflik antara Hizbullah dan Israel kembali meningkat sejak Maret lalu ketika kelompok tersebut melancarkan serangan roket dan drone ke wilayah Israel. Situasi kemudian berkembang menjadi rangkaian serangan balasan yang melibatkan operasi udara dan darat, meski kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat. Namun, bentrokan dan serangan di perbatasan masih terus terjadi hingga kini. (ANT/RAI)