JAKARTA, AFU.ID — Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim Iran pernah berupaya membunuh putra sulungnya, Yair Netanyahu. Klaim tersebut muncul ketika pengamanan terhadap keluarga Netanyahu tengah menjadi sorotan di Israel. Pertanyaannya, apakah ancaman terhadap Yair benar-benar bagian dari operasi Iran, atau justru menjadi alasan untuk mempertahankan bahkan memperkuat fasilitas pengamanan keluarganya?
Netanyahu sebelumnya mengungkap dugaan upaya pembunuhan tersebut dalam wawancara melalui telepon dengan koresponden militer Channel 14, Noam Amir, yang disiarkan pada Senin (24/8/2026). Saat itu, Netanyahu hanya menyebut Iran menargetkan salah satu putranya tanpa menjelaskan apakah Yair atau Avner yang menjadi sasaran. Ia juga tidak mengungkap kapan dan bagaimana dugaan operasi tersebut dilakukan.
Nama Yair kemudian muncul dalam laporan Newsmax yang mengutip seorang sumber penegak hukum Amerika Serikat yang disebut mengetahui persoalan tersebut. Menurut laporan itu, intelijen Israel telah mengetahui dugaan rencana tersebut sejak Desember 2025 dan menduga agen Iran sudah berada di Miami untuk melakukan pengintaian terhadap kediaman serta aktivitas Yair. Namun, hingga kini informasi tersebut masih bertumpu pada sumber anonim dan belum disertai penjelasan terbuka mengenai siapa agen yang disebut berada di Miami, bagaimana pengintaian dilakukan, maupun seberapa dekat dugaan operasi itu dengan aksi pembunuhan.
Netanyahu sendiri tidak memberikan rincian tersebut. Ia justru mengaitkan ancaman terhadap putranya dengan kebutuhan pengamanan terhadap keluarganya. “Ini bukan kemewahan. Tanpa pengamanan tersebut, mereka bisa berhasil membunuh putra saya,” ujar Netanyahu. Pernyataan itu menjadi menarik karena pengamanan keluarga Netanyahu memang tengah menjadi persoalan di Israel. Pada Juli 2026, Komite Menteri Urusan Shin Bet telah menyetujui perpanjangan pengamanan pribadi terhadap istri Netanyahu, Sara Netanyahu, serta kedua putranya, Yair dan Avner.
Munculnya klaim mengenai dugaan rencana pembunuhan ini, alasan mempertahankan pengamanan tersebut mendapat dasar baru dari sisi ancaman keamanan. Terlebih, Yair diketahui banyak tinggal di Miami, sementara Avner berada di Israel. Netanyahu juga mengatakan dirinya telah berbicara dengan Kepala Shin Bet David Zini dan meminta agar perlindungan yang sesuai diberikan kepada kandidat perdana menteri Israel. Pernyataan tersebut disampaikan ketika muncul perdebatan mengenai pengamanan terhadap Gadi Eisenkot, mantan kepala staf militer Israel yang menjadi salah satu rival politik Netanyahu menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026.
Dalam konteks tersebut, Netanyahu tidak hanya berbicara mengenai keselamatan keluarganya, tetapi juga mendorong agar ancaman keamanan menjadi dasar pemberian perlindungan kepada para kandidat perdana menteri. Artinya, isu dugaan operasi Iran terhadap Yair juga bersinggungan dengan perdebatan politik mengenai siapa yang berhak memperoleh fasilitas pengamanan negara dan seberapa besar perlindungan tersebut diperlukan. Namun, belum ada bukti publik yang cukup untuk menyimpulkan bahwa klaim Netanyahu merupakan sebuah gimmick untuk mendapatkan fasilitas pengamanan tambahan. Sebaliknya, belum tersedia pula penjelasan independen yang cukup untuk memastikan seluruh detail dugaan operasi Iran terhadap Yair sebagaimana dilaporkan Newsmax.
Keraguan tersebut menjadi penting karena Netanyahu pertama kali mengungkap adanya upaya pembunuhan tanpa menyebut nama putranya. Identitas Yair baru muncul kemudian melalui laporan yang mengutip sumber penegak hukum AS. Pemerintah Israel juga belum membeberkan secara terbuka rincian operasi tersebut. Dugaan ancaman terhadap keluarga Netanyahu muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Israel dan Iran.
Karena itu, klaim Netanyahu mengenai Yair saat ini berada di antara dua kemungkinan. Antara gimmick atau sekadar ingin mendapat fasilitas pengamanan yang lebih. Yang jelas, belum ada bukti terbuka yang cukup untuk memastikan apakah dugaan operasi terhadap Yair benar-benar terjadi seperti yang dilaporkan, atau apakah isu tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memperkuat alasan mempertahankan pengamanan ketat terhadap keluarga Netanyahu. (EER)