Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, mengusulkan agar 30 hingga 40 orang di Gaza dibunuh setiap malam sebagai bagian dari serangan militer yang lebih intensif, mengkritik kebijakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dinilai mengurangi serangan. Dalam sebuah podcast, Ben-Gvir juga mengusulkan emigrasi massal warga Palestina dari Gaza dan menegaskan bahwa seluruh wilayah tersebut adalah milik Israel. Meskipun tidak memiliki kewenangan untuk memerintahkan serangan, pernyataannya mencerminkan pandangan ekstrem dalam pemerintahannya dan muncul di tengah perdebatan mengenai gencatan senjata dan arah operasi militer di Gaza.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir di Yerusalem, (26/5/2026). (Foto: Ammar Awad/Reuters).
JAKARTA, AFU.ID — Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyerukan pembunuhan terhadap 30 hingga 40 orang di Gaza setiap malam. Pernyataan tersebut disampaikan saat Ben-Gvir mengkritik penurunan intensitas serangan militer Israel di Jalur Gaza. Ben-Gvir menyampaikan seruan itu saat berbicara dengan mantan sandera Gaza, Rom Braslavski, dalam sebuah podcast pada Minggu (16/8/2026).
Dalam wawancara tersebut, ia menyatakan perlunya pembunuhan terarah di Gaza. "Saya pikir pembunuhan terarah harus dilakukan di Gaza, menargetkan 30 hingga 40 orang setiap malam," ujar Ben-Gvir sebagaimana dilaporkan Associated Press. Ben-Gvir juga mengatakan sasaran serangan tidak seharusnya hanya orang-orang yang dianggap menimbulkan ancaman langsung.
Ia bahkan menyampaikan pernyataan yang merendahkan warga Gaza. Selain menyerukan pembunuhan, Ben-Gvir mengusulkan emigrasi massal warga Palestina dari Gaza serta pemukiman kembali wilayah tersebut oleh Israel. "Saya melihat seluruh Gaza adalah milik kita," kata Ben-Gvir. Seruan tersebut disampaikan Ben-Gvir ketika mengkritik kebijakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang dinilai mulai mengurangi intensitas serangan di Gaza.
"Bukan rahasia lagi, saya tidak sependapat dengan perdana menteri," kata Ben-Gvir. Ben-Gvir tidak memiliki kewenangan untuk memerintahkan militer Israel melakukan serangan ke Gaza. Namun, ia merupakan salah satu tokoh berpengaruh dari kelompok sayap kanan ekstrem dalam pemerintahan Israel. Sebagai Menteri Keamanan Nasional, Ben-Gvir mengawasi kepolisian nasional dan sistem penjara Israel.
Pernyataannya muncul di tengah perdebatan mengenai arah operasi militer Israel di Gaza dan upaya mendorong gencatan senjata. Sebelumnya, Israel dilaporkan melancarkan serangan hampir setiap hari. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 1.250 orang tewas sejak kesepakatan gencatan senjata pada Oktober 2025 mulai berlaku.
Penurunan intensitas serangan disebut berkaitan dengan upaya kompromi dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Media Israel juga melaporkan kewenangan untuk melaksanakan serangan telah dibatasi dan hanya berada di tangan Panglima Staf Angkatan Darat. Sementara itu, proposal terbaru Trump mencakup penyerahan senjata secara bertahap oleh Hamas. Dalam usulan tersebut, pasukan Israel akan menghentikan serangan dan mulai menarik diri dari Gaza. (FAD)