JAKARTA, AFU.ID — Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menuduh Amerika Serikat (AS) berupaya memanipulasi pasar energi melalui media untuk memengaruhi harga minyak dan mempertahankan perang di Timur Tengah. Tuduhan itu disampaikan Araqchi melalui akun X pada Sabtu (29/8/2026). Ia mengklaim intelijen Iran menemukan upaya besar untuk memengaruhi pasar energi. "Intelijen kami menunjukkan adanya upaya besar untuk memainkan pasar energi," tulis Araqchi.
Ia menuding sejumlah elemen pemerintah AS menggunakan media untuk memengaruhi harga demi kepentingan mereka sendiri. "Elemen-elemen pemerintah AS menggunakan media yang mudah percaya untuk memengaruhi harga demi keuntungan pribadi dan membuat Presiden AS terus terjebak dalam perang yang sedang kalah," katanya.
Araqchi juga menuding aktor yang berpihak kepada Israel ikut mendorong perang dengan menyebarkan penilaian yang terlalu optimistis mengenai situasi konflik. "Aktor-aktor yang berpihak kepada Israel juga mendorong perang dengan penilaian yang terlalu optimistis," ujarnya. Menurutnya, dampak dari gejolak tersebut pada akhirnya dirasakan masyarakat AS. "Konsumen AS yang merasakan dampak akhirnya," tulisnya.
Tuduhan ini muncul ketika kondisi Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama pasar energi global. Iran menyatakan masih mengendalikan jalur strategis tersebut dan membantah klaim bahwa Hormuz telah sepenuhnya terbuka. Namun, kapal masih dapat melintas meski volumenya jauh di bawah kondisi normal. Data pelayaran yang dikutip Reuters menunjukkan hanya lima kapal komoditas melintasi Hormuz pada 25 Agustus, sementara lalu lintas masih berada di bawah rata-rata 10 hari sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat pasar minyak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan di Hormuz. Ancaman gangguan pasokan dapat mendorong harga naik, sedangkan tanda-tanda pemulihan arus pelayaran dapat menekan harga. Harga Brent sendiri berada di kisaran US$88 per barel pada Jumat (28/8), setelah sebelumnya sempat menembus US$100 akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan. (EER)