JAKARTA, AFU.ID — Jumlah kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo terus bertambah dan kini mendekati angka seribu. Otoritas kesehatan setempat mencatat 956 kasus terkonfirmasi dengan 247 kematian sejak wabah diumumkan pada pertengahan Mei 2026.
Lonjakan kasus terbaru terjadi setelah 23 infeksi baru, termasuk dua kematian, dilaporkan dalam sehari di Provinsi Ituri dan Kivu Utara. Penambahan tersebut memperkuat tren peningkatan kasus yang masih berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.
Provinsi Ituri tetap menjadi pusat penyebaran wabah Ebola di negara itu. Wilayah tersebut mencatat 874 kasus terkonfirmasi dan 201 kematian, atau lebih dari 91 persen dari total kasus nasional.
Di tengah peningkatan kasus, jumlah pasien yang berhasil sembuh masih relatif terbatas. Otoritas kesehatan melaporkan sebanyak 92 pasien telah pulih, sementara 361 lainnya masih menjalani isolasi atau perawatan di rumah sakit.
Laporan terbaru juga menunjukkan tantangan besar dalam upaya pengendalian wabah. Sebanyak 162 kasus suspek baru teridentifikasi dalam sehari, sementara tingkat pelacakan kontak baru mencapai 69,3 persen, jauh di bawah target 95 persen.
Menteri Kesehatan Republik Demokratik Kongo, Roger Kamba, mengatakan wabah saat ini masih berada dalam fase peningkatan. "Jumlah kasus berpotensi terus bertambah seiring meluasnya pencarian kasus aktif di komunitas terdampak," kata Kamba dalam konferensi pers, Jumat (20/6/2026).
Ia menjelaskan pemerintah belum dapat memastikan kapan wabah mencapai puncaknya. Penurunan baru bisa dinilai ketika angka kasus mingguan mulai stabil atau menunjukkan tren menurun secara konsisten.
Karena itu, upaya menemukan kasus baru, mengisolasi pasien, memperluas pengobatan, dan meningkatkan keterlibatan masyarakat masih menjadi fokus utama penanganan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memutus rantai penularan yang masih berlangsung.
Wabah Ebola yang disebabkan virus Ebola Bundibugyo pertama kali diumumkan pemerintah Republik Demokratik Kongo pada 15 Mei 2026. Sejak saat itu, penyebaran penyakit terus meluas dan menjadikan Ituri sebagai episentrum utama wabah. (ANT/RAI)