JAKARTA - AFU.ID - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu sedianya menjalani pemeriksaan silang (cross-examination) pada tahap sidang kasus suap media Walla-Bezeq pada Senin kemarin (27/4/2026), namun sidang itu ditunda untuk alasan keamanan.
Penundaan ini terjadi di waktu mepet, hanya berselang 90 menit sebelum sidang dimulai. “Penundaan dilakukan berdasarkan alasan keamanan yang kurang jelas, atas permintaan pengacaranya, Amit Hadad,” seperti diberitakan Yenisafak, kemarin.
Sejak 2020, pengadilan Israel sudah membatalkan sebanyak kurang lebih 50 kali persidangan yang menyangkut kasus Benyamin Netanyahu dalam tiga kasus yang berbeda. Jumlah penundaan terbanyak terjadi saat Perang Gaza dimulai, tercatat sudah 20 kali dirinya batal disidang.
Alasan penundaan beragam, mulai dari alasan protokol kesehatan Covid-19, keamanan negara di tengah perang, hingga alasan diplomatis karena dirinya merupakan satu-satunya PM Israel yang disidang saat masih menjabat.
Khusus untuk kasus di atas, dirinya sudah empat kali mangkir dari sidang akibat perang antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran. Terakhir kali dirinya dimintai kesaksian dalam persidangan terjadi pada 24 Februari lalu.
Case 4000, atau juga dikenal sebagai Bezeq-Walla affair adalah kasus yang paling memberatkan dirinya di mata hukum. Netanyahu dituduh menerima suap dan rekayasa regulasi untuk menguntungkan perusahaan telekomunikasi Bezeq milik Shaul Elovich.
Tidak ada yang gratis dalam politik. Sebagai imbalannya, Walla, perusahaan media di bawah naungan Bezeq itu diminta membuat pemberitaan positif tentang dirinya.
Seperti disebutkan The Times of Israel (12/12/2024), dalam pledoinya, Netanyahu mengakui telah meminta kepada Elovich untuk mengubah orientasi politik dalam pemberitaan Walla ke arah yang lebih konservatif.
Meski begitu, dirinya membantah telah memberi instruksi pemberitaan positif secara langsung terhadap Walla. “Hanya permintaan sebagai teman saja,” ungkap dia.
Berbeda dengan dirinya, Jaksa dalam kasus itu, Yehudit Tirosh mengatakan pihaknya menemukan pola respons khusus pada setiap pemberitaan negatif terhadap dirinya di Walla, di mana pola intervensi itu dilakukan secara rutin oleh Netanyahu dan istrinya.
“Sebagai imbalan dari hak istimewa yang diterima oleh Bezeq dan Elovich, Netanyahu selalu mendapatkan pemberitaan positif dari media itu,” ungkapnya.
Perang: Senjata Netanyahu Menunda Persidangan
Tiga kasus korupsi yang menjerat Netanyahu itu sudah bergulir sejak November 2019. Dimulai dari Case 1000 dengan dakwaan gratifikasi berupa hadiah barang-barang mewah seperti cerutu dan sampanye bernilai sekitar Rp4,2 miliar dari para miliarder.
Kasus kedua, Case 2000, melibatkan dirinya dalam kasus intervensi pemberitaan media Yedioth Ahronoth. Dia meminta media terbesar di Israel itu memberitakan sisi positif Netanyahu.
Pusat gravitasi dari seluruh persidangan ini adalah Case 4000, yang disebut Jaksa sebagai yang paling berdampak serius karena mengandung pasal suap. Skandal Bezeq-Walla dituduh memberikan keuntungan regulasi senilai sekitar 1,8 miliar shekel (sekitar US$500 juta) kepada Bezeq.
Ada konsekuensi yang lebih besar dari sekadar kasus suap: yaitu menjadikan perang sebagai senjata untuk menunda persidangan. Frasa ini terdengar berlebihan, tetapi itu tidak bertentangan dengan fakta yang terjadi sejak Perang Gaza hingga serangan brutal Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Masa-masa penyerangan itu terjadi saat Netanyahu sedang mendapat sorotan tajam dari warganya sendiri karena terlibat berbagai skandal.
Kolomnis Forbes, Thomas Friedman menyebut bahwa menjaga Israel dalam kondisi perang melawan Iran, Hamas dan Hizbullah (dan sekarang Iran) adalah strategi yang memungkinkan Netanyahu untuk menunda proses persidangan korupsinya.
“Kalau Anda pikir pernyataan ini terlalu sinis, artinya Anda belum mengenal Netanyahu dengan baik,” ungkapnya seperti diberitakan Forbes (10/4/2026).
Pernyataan senada juga diucapkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam pemberitaan yang sama. Kata dia, Netanyahu terus mendorong agar Israel melakukan aksi militer di Timur Tengah hanya demi menunda kasus persidangannya.
“Gencatan senjata hanya akan mempercepat Netanyahu masuk penjara,” katanya.
Organisasi think tank independen Arab Center Washington D.C pada 2025 lalu juga menyebut bahwa sejak awal proses persidangan, tampak jelas bahwa Netanyahu seperti ingin menjauh dari proses judsial yang akuntabel lewat konflik regional yang sengaja diundur-undur terus.
Kasus suap dan korupsi membuat citra Netanyahu hancur di mata publik, sementara dirinya enggan meninggalkan jabatannya sebagai perdana menteri terlama sepanjang sejarah Israel. Beberapa pengamat yang dirangkum Haaretz menyatakan bahwa langkah terakhir yang dilakukan Netanyahu adalah political survival.
“Perang menciptakan kondisi mencekam yang membuat publik memberikan toleransi terhadap penundaan sidang,” seperti diberitakan Haaretz. (EER)