JAKARTA, AFU.ID — Fakta baru terungkap dalam penembakan maut yang dilakukan remaja 14 tahun di Thailand. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyebut pelaku mengalami stres terkait pendidikan dan tindakannya menunjukkan serangan telah direncanakan. Dalam aksinya, remaja tersebut menggunakan pistol legal milik kakeknya, yang justru menjadi salah satu korban pertama sebelum pelaku melanjutkan penembakan ke sekolah.
Anutin mengatakan informasi mengenai tekanan pendidikan diperoleh setelah aparat mendalami kondisi pelaku dan meminta keterangan orang-orang yang mengenalnya. Namun, polisi hingga kini belum menyimpulkan secara pasti motif yang mendorong remaja tersebut melakukan pembunuhan. Anutin menilai rangkaian tindakan pelaku menunjukkan serangan bukan dilakukan secara spontan.
“Dia mengalami stres karena pendidikannya,” kata Anutin setelah mengunjungi Sekolah Debsirin Nonthaburi. Ia menambahkan, tindakan pelaku terlihat dilakukan dengan sengaja dan telah memiliki perencanaan sebelumnya. Dugaan itu diperkuat oleh rangkaian tindakan pelaku sejak berada di rumah hingga akhirnya melakukan penembakan di sekolah.
Polisi menyebut pelaku lebih dulu menembak mati kakek dan neneknya sekitar pukul 05.00 waktu setempat di rumah mereka di Bang Bua Thong. Senjata dan amunisi yang digunakan merupakan milik sang kakek dan kepemilikannya disebut memiliki izin. Pemeriksaan awal bahkan menemukan tanda-tanda pelaku mencari senjata tersebut di kamar tidur kakeknya sebelum penembakan terjadi.
Ada fakta lain yang turut menjadi perhatian dalam penelusuran polisi. Setelah Festival Songkran pada April lalu, pelaku diketahui pernah mengunggah foto pistol milik kakeknya dan menyebut senjata tersebut memiliki izin. Beberapa bulan kemudian, senjata yang sama berakhir di tangan pelaku dan digunakan untuk membunuh kakek serta neneknya.
Setelah membunuh keduanya, remaja tersebut tidak berhenti dan kemudian menaiki kendaraan antar-jemput menuju Sekolah Debsirin Nonthaburi dengan membawa pistol beserta puluhan butir amunisi. Ia sempat mengikuti pelajaran sebelum sekitar setengah jam memasuki jam pelajaran kedua mengeluarkan senjata dan mulai menembak. Lima guru dan staf sekolah tewas, sementara 23 orang lainnya mengalami luka-luka.
Polisi mencatat pelaku sedikitnya melepaskan 26 tembakan selama rangkaian serangan tersebut. Sebanyak 34 butir peluru lainnya masih ditemukan dalam penguasaannya ketika insiden berakhir. Pelaku kemudian ditemukan setelah menembak dirinya sendiri dan meninggal dunia setelah sempat mendapat pertolongan medis.
Rangkaian peristiwa itu kini turut mengarahkan perhatian pada akses terhadap senjata api yang dimiliki secara legal di Thailand. Senjata dalam kasus ini bukan berasal dari kepemilikan ilegal pelaku, melainkan pistol berizin milik anggota keluarganya yang dapat diakses dan kemudian disalahgunakan. Tragedi tersebut mendorong Anutin mengusulkan aturan baru untuk memperketat masyarakat membawa senjata api di ruang publik. (RHU)