JAKARTA, AFU.ID — Gedung Putih mengeklaim bahwa China menjamin tidak mengirim senjata ke Iran setelah mendapat peringatan keras dari AS. Sumber yang sama juga menyebut bank di China tidak akan melakukan transaksi keuangan dengan Iran.
AS mengeklaim ancamannya ke China itu didengar setelah militernya disebut berhasil memblokade Selat Hormuz pasca-perjanjian damai di Islamabad, Pakistan beberapa hari lalu. Meski begitu, pernyataan resmi dari China belum juga keluar sebagai tanggapan atas klaim AS tersebut.
Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan bahwa Presiden China Xi Jinping telah meyakinkan Presiden AS Donald Trump bahwa Beijing tidak memasok senjata apapun ke Iran di tengah konflik.
"Presiden Xi memastikan kepada Presiden Trump bahwa mereka tak memasok senjata kepada Iran selama konflik berlangsung, dan jaminan tersebut disampaikan kepada presiden," kata Leavitt dalam konferensi pers, Rabu (16/4/2026).
Dalam konferensi pers yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut China menggantungkan impor minyaknya dari Iran sebesar 8 persen. Angka itu sama dengan 90 persen ekspor minyak Iran ke luar negeri.
Dia menyebut, blokade militer AS di Selat Hormuz telah menghentikan aktivitas pengiriman minyak mentah Iran ke China sementara. Pihaknya juga berjanji akan memberi sanksi tegas kepada bank di China yang melakukan transaksi keuangan dengan Iran.
"Dua bank China telah menerima surat dari Kementerian Keuangan AS. Saya tak akan sebutkan nama banknya, tapi kami katakan pada mereka kalau terbukti ada uang Iran yang mengalir melalui rekening mereka, kami akan berikan mereka sanksi sekunder," kata Bessent.
Melemahkan Gencatan Senjata
Sebelumnya, Pemerintah China menyebut blokade AS di sejumlah pelabuhan Iran sebagai tindakan "tidak bertanggung jawab dan berbahaya". Langkah tersebut akan "melemahkan kesepakatan gencatan senjata yang sudah rapuh" sekaligus semakin mengancam keselamatan kapal yang melintas di Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri Beijing menyebut sejauh ini, kapal-kapal China termasuk di antara sedikit yang berhasil melewati selat tersebut. Blokade AS berpotensi memutus pasokan bagi China dan menimbulkan dampak luas terhadap perekonomiannya.
Berdasarkan pemberitahuan yang dikeluarkan CENTCOM kepada para pelaut dan dilaporkan oleh kantor berita Reuters, kapal yang masuk atau meninggalkan wilayah yang diblokade tanpa izin akan dicegat, dialihkan, hingga ditahan.
Meski demikian, kapal pengangkut makanan dan obat-obatan tetap diizinkan melintas, dengan catatan harus melalui proses pemeriksaan.
Citra satelit memperlihatkan, kapal induk USS Abraham Lincoln telah bersiaga di bagian timur Teluk Oman, sekitar 200km sebelah selatan perairan Iran, sejak Sabtu (11/04). Selain menempatkan kapal induk, militer AS mengerahkan dua kapal perusak yang mengangkut rudal kendali.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam pemberlakuan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran setelah para perunding dari kedua pihak gagal mencapai kesepakatan di Islamabad untuk mengakhiri perang.
"Tidak seorang pun yang membayar pungutan ilegal akan mendapat jalur aman di laut lepas," tulis Trump di Truth Social.
Kapal Iran Tetap Menembus Selat Hormuz
Di tengah klaim AS yang telah berhasil memblokade Selat Hormuz itu, setidaknya ada tiga kapal Iran yang berhasil melintas. Meskipun beberapa kapal lainnya yang terpaksa balik arah, menurut data pelacakan maritim pada hari Selasa (14/4) waktu setempat.
Dilansir kantor berita AFP, Rabu (15/4/2026), menurut penyedia data maritim Kpler, kapal pengangkut curah berbendera Liberia, Christianna, melintasi selat tersebut setelah membongkar 74.000 ton jagung di pelabuhan Bandar Imam Khomeini di Teluk Iran, melewati Pulau Larak, Iran di selat tersebut sekitar pukul 16.00 GMT pada hari Senin, menurut data Kpler.
Kapal kedua, kapal tanker berbendera Komoro, Elpis, berada di dekat Pulau Larak sekitar pukul 11.00 GMT dan meninggalkan Selat Hormuz sekitar pukul 16.00 GMT. Kapal itu memuat 31.000 ton metanol, setelah meninggalkan pelabuhan Bushehr di Teluk Persia pada 31 Maret, menurut data Kpler.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang mengatakan bahwa AS dan Iran sebenarnya "tinggal selangkah lagi" mencapai kesepakatan dalam perundingan damai di Pakistan.
Namun, menurutnya, Teheran kemudian justru dihadapkan pada sikap "maksimalis, perubahan tuntutan yang terus-menerus, serta ancaman blokade".
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang memimpin perundingan di Pakistan, menyindir keputusan AS tersebut yang ditulis dalam sebuah unggahan di platform X:
"Nikmati angka harga di pompa saat ini. Dengan apa yang disebut 'blokade' itu, tak lama lagi kalian akan bernostalgia dengan harga bensin 4–5 dolar AS."