JAKARTA, AFU.ID — Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai mendorong pembangunan HAM di Indonesia berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Pembangunan tersebut dinilai harus menjamin penghormatan terhadap setiap individu tanpa diskriminasi suku, agama, ras, budaya, maupun identitas lainnya.
Pigai mengatakan pembangunan HAM tidak hanya berkaitan dengan perlindungan hak dasar warga negara. Menurut dia, pembangunan HAM juga membutuhkan keterlibatan generasi muda sebagai agen perubahan.
“Untuk menjadi contoh yang berdampak, generasi muda dan seluruh elemen bangsa harus menguasai tiga pilar utama, yaitu knowledge, skill, dan attitude,” kata Pigai dalam keterangannya, Jumat (12/6/2026).
Pernyataan itu disampaikan Pigai dalam Festival HAM 2026 di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (11/6/2026). Festival tersebut mengangkat tema “Pembangunan HAM dalam Jiwa Pancasila”.
Pigai mengatakan konsep HAM terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Selain hak sipil dan politik serta hak ekonomi, sosial, dan budaya, pembangunan HAM saat ini juga mencakup hak atas pembangunan dan lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Menurut dia, pendekatan pembangunan berbasis HAM perlu menjadi bagian dari upaya memperkuat keadilan sosial. Pendekatan tersebut juga diperlukan agar seluruh kelompok masyarakat memperoleh kesempatan yang setara dalam pembangunan.
Pigai menilai generasi muda perlu dibekali pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang kuat agar mampu menjadi bagian dari penguatan HAM di masyarakat.
“Tunjukkan jati diri Anda yang sebenarnya dengan kapasitas dan kemampuan objektif yang kalian miliki,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi penyelenggaraan Festival HAM 2026. Menurut Pigai, forum tersebut dapat menjadi ruang edukasi publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai HAM dan penerapannya dalam kehidupan berbangsa.
Rektor UKSW Intiyas Utami mengatakan tema pembangunan HAM dalam jiwa Pancasila sejalan dengan komitmen kampus dalam menjaga keberagaman, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
“Penyelenggaraan Festival HAM dengan tema ini merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan panjang kampus kami yang kini telah berusia 70 tahun,” kata Intiyas.
Menurut Intiyas, UKSW sejak awal berdiri berkomitmen menyuarakan dan menegakkan HAM sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila. Ia mengatakan kampus akan terus mengembangkan lingkungan akademik yang menghargai keberagaman.
Festival HAM 2026 turut diisi diskusi ilmiah, edukasi hukum dan HAM, serta penguatan kolaborasi antara Kementerian HAM dan perguruan tinggi. Kegiatan tersebut diarahkan untuk mendorong pembangunan yang lebih inklusif dan berbasis penghormatan terhadap hak asasi manusia.
Dengan pendekatan tersebut, pembangunan HAM tidak cukup hanya dipahami sebagai perlindungan hukum. Pemerintah, kampus, dan generasi muda juga perlu memastikan nilai kesetaraan, nondiskriminasi, dan keadilan sosial benar-benar hadir dalam praktik pembangunan. (RHU)