JAKARTA, AFU.ID — Pakuwon Group membantah pemasangan pagar besi setinggi sekitar 2,5 meter di Mal Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, dilakukan untuk mengantisipasi krisis ekonomi, kerusuhan, maupun penjarahan. Manajemen menyebut pembatas tersebut dipasang untuk menjaga keselamatan pengunjung dan mengatur akses keluar-masuk dari jalan raya. Penjelasan itu disampaikan setelah pagar serupa berdiri di sejumlah mal Pakuwon di Surabaya dan memicu spekulasi publik.
Pagar berwarna abu-abu terlihat di sekitar pintu masuk utama kendaraan Kota Kasablanka dari Jalan Raya Casablanca. Pemasangannya tidak menutup seluruh bagian depan pusat perbelanjaan karena sejumlah area masih dibiarkan terbuka dan sebagian lainnya menggunakan pagar kaca yang lebih rendah. Kota Kasablanka dikelola PT Pakuwon Jati Tbk, perusahaan yang juga mengelola Pakuwon Mall, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, dan Pakuwon City Mall di Surabaya.
Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi mengatakan pagar diperlukan karena beberapa pusat perbelanjaan berbatasan langsung dengan jalan raya. Pengunjung yang menyeberang dan masuk dari sembarang titik dinilai berisiko mengalami kecelakaan. “Kalau semua orang menyeberang, masuk sembarangan, ini kan bahaya buat mereka sendiri,” kata Sutandi, Jumat (31/7/26).
Sutandi sekaligus membantah dugaan bahwa perusahaan mengetahui atau sedang mengantisipasi gejolak tertentu pada masa mendatang. “Pakuwon itu bukan peramal. Kita tidak tahu mau terjadi apa, ekonomi baik-baik saja,” ujarnya. Ia menegaskan perusahaan tidak memiliki alasan untuk merasa takut karena tetap menjalankan kegiatan usahanya di Indonesia.
Pemagaran sejumlah mal Pakuwon sebelumnya ramai dikaitkan warganet dengan ancaman demonstrasi, vandalisme, hingga pengulangan kerusuhan 1998. Spekulasi itu muncul setelah pagar tinggi dengan ujung meruncing dibangun hampir berdekatan di sejumlah pusat perbelanjaan milik grup yang sama. Namun, hingga kini tidak terdapat bukti resmi bahwa pemasangan pagar Kota Kasablanka dilakukan untuk menghadapi ancaman kerusuhan.
Menurut Sutandi, penggunaan pagar di properti Pakuwon sebenarnya bukan kebijakan baru. Blok M Plaza di Jakarta telah lebih dahulu dipagari dan disebut menjadi contoh desain pembatas yang kemudian diterapkan di pusat perbelanjaan lain. Pakuwon juga menggunakan material kaca di sejumlah lokasi agar fungsi pembatas tetap menyesuaikan tampilan bangunan.
Untuk mal di Surabaya, Pakuwon memberikan alasan berbeda sesuai kondisi masing-masing bangunan. Pagar Pakuwon Mall dikaitkan dengan perubahan arus lalu lintas setelah Radial Road beroperasi, sedangkan pagar Royal Plaza dan Pakuwon City Mall diganti karena struktur lama telah berkarat dan keropos. Khusus Tunjungan Plaza, manajemen sebelumnya mengakui pagar juga berfungsi sebagai pengamanan ketika demonstrasi berlangsung di sekitar Gedung Negara Grahadi.
Meski telah membantah isu krisis dan kerusuhan, Pakuwon belum menjelaskan secara terperinci mengapa pagar tinggi baru dipasang pada sebagian akses Kota Kasablanka saat ini. Manajemen juga belum menyebut biaya pengerjaan, jadwal penyelesaian, maupun apakah pemagaran akan diperluas ke bagian lain. Penjelasan tersebut diperlukan karena pola pembangunan di beberapa mal dalam satu grup terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.
Pagar dapat menjadi bagian dari pengamanan dan pengaturan arus pengunjung, tetapi bentuk serta waktu pemasangannya tetap menimbulkan pertanyaan publik. Bantahan manajemen menjawab spekulasi mengenai krisis, tetapi belum sepenuhnya membuka alasan teknis khusus pembangunan di Kota Kasablanka. Pakuwon perlu menjelaskan detail tersebut agar ruang kosong informasi tidak terus diisi narasi liar di media sosial. (RHU)