JAKARTA, AFU.ID — Jurusan Kedokteran terus menjadi salah satu bidang studi paling prestisius dan diminati oleh puluhan ribu calon mahasiswa di Indonesia setiap tahunnya. Pertimbangan seperti reputasi akademik, fasilitas penelitian, jaringan rumah sakit pendidikan, hingga kiprah alumni menjadi penentu utama dalam memilih kampus. Lembaga pemeringkat universitas independen berbasis metrik akademik dan riset global, EduRank 2025, kembali merilis daftar perguruan tinggi dengan Fakultas Kedokteran terbaik di tanah air.
Dalam rilis pemeringkatan terbaru tersebut, Universitas Indonesia (UI) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) mengukuhkan dominasinya di posisi teratas. UI memimpin di peringkat 1 nasional (441 dunia) berkat fasilitas riset modern dan jaringan rumah sakit pendidikan kelas internasional. Sementara itu, UGM menyusul ketat di posisi 2 nasional (564 dunia) dengan keunggulan riset kesehatan masyarakat serta pengembangan kedokteran tropis berbasis kolaborasi global.
Berdasarkan indikator Peringkat Indonesia pada data resmi EduRank 2025, berikut adalah urutan 10 Fakultas Kedokteran terbaik di Indonesia:
Universitas Indonesia (UI): Peringkat 1 Nasional (441 Dunia)
Universitas Gadjah Mada (UGM): Peringkat 2 Nasional (564 Dunia)
Universitas Diponegoro (UNDIP): Peringkat 4 Nasional (826 Dunia)
Universitas Padjadjaran (UNPAD): Peringkat 5 Nasional (829 Dunia)
Universitas Airlangga (UNAIR): Peringkat 7 Nasional (872 Dunia)
Universitas Brawijaya (UB): Peringkat 8 Nasional (914 Dunia)
Universitas Sebelas Maret (UNS): Peringkat 9 Nasional (1039 Dunia)
Universitas Hasanuddin (UNHAS): Peringkat 11 Nasional (1225 Dunia)
Universitas Udayana (Unud): Peringkat 13 Nasional (1315 Dunia)
Universitas Andalas (UNAND): Peringkat 14 Nasional (1366 Dunia)
Hasil pemeringkatan tahun ini menunjukkan bahwa persebaran kualitas pendidikan kedokteran di Indonesia semakin merata dan tidak lagi berpusat di Pulau Jawa. Perguruan tinggi negeri dari Pulau Bali, Sumatra, hingga Sulawesi terbukti mampu bersaing secara kompetitif di tingkat nasional maupun internasional. Kehadiran kampus-kampus luar Jawa ini memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan riset kesehatan berbasis potensi dan penyakit di kawasan regional.
Beberapa tren positif yang menonjol dari capaian kampus kedokteran di Indonesia mencakup peningkatan jumlah riset internasional di bidang kedokteran tropis, perluasan jaringan rumah sakit pendidikan, serta tingginya daya tarik program pertukaran mahasiswa global. Peningkatan kualitas sarana biomedis dan rehabilitasi medis juga mendorong lulusan dokter Indonesia agar siap menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern.
Secara keseluruhan, persaingan untuk menembus Fakultas Kedokteran terbaik di Indonesia dipastikan tetap sangat ketat. Calon mahasiswa diimbau untuk lebih teliti memverifikasi data peringkat resmi serta menyesuaikan pilihan dengan keunggulan fokus riset kampus tujuan. Ketepatan analisis data ini diharapkan membantu calon mahasiswa menentukan arah pendidikan tinggi secara tepat dan terukur. (RHU)