JAKARTA, AFU.ID — Anak berinisial DS, korban dugaan malapraktik khitan di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, dirujuk ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk menjalani pemeriksaan medis lanjutan. Rujukan ini dilakukan guna memastikan kondisi organ vital korban setelah mengalami cedera serius.
Ketua KPAID Kabupaten Tasikmalaya, Ato Rinanto, mengatakan korban dibawa ke RSHS Bandung pada Selasa (7/7/2026). DS didampingi oleh KPAID, Dinas Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta perwakilan klinik. “Korban dugaan malapraktik bersama KPAID, Dinkes, dan IDI sedang dibawa ke RSHS,” kata Ato.
Menurut Ato, pemeriksaan akan dilakukan oleh dokter spesialis bedah untuk mengetahui kondisi medis korban secara lebih jelas. Hasil pemeriksaan tersebut akan menjadi dasar apakah korban membutuhkan tindakan lanjutan. “Rujukan ini menjadi harapan baru, meskipun masih tahap awal. Setidaknya sudah ada langkah lanjutan untuk kesembuhan ananda DS,” ujarnya.
Kasus dugaan malapraktik khitan itu disebut terjadi di sebuah klinik di wilayah Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya, pada 26 Januari 2025. Setelah kejadian tersebut, keluarga korban berupaya mencari kejelasan atas kondisi DS dan meminta pendampingan kepada KPAID.
Orang tua korban mendatangi KPAID Kabupaten Tasikmalaya pada Rabu (1/7/2026). Mereka meminta pendampingan atas dugaan malapraktik yang menimpa anaknya, termasuk dalam proses medis dan hukum. Selain mendampingi pemeriksaan medis, KPAID juga memberikan pendampingan psikologis kepada korban dan keluarganya. Pemulihan psikis dinilai penting karena kejadian tersebut tidak hanya berdampak secara fisik, tetapi juga emosional.
KPAID turut mendampingi ibu korban saat membuat laporan ke Polres Tasikmalaya Kota. Ato menegaskan proses hukum tetap berjalan, meski saat ini fokus utama pendampingan masih diarahkan pada pemulihan korban.
Ato menyebut pihaknya telah berkomunikasi dengan terduga pelaku. Namun, KPAID belum menentukan langkah penyelesaian, baik melalui jalur damai maupun proses hukum lanjutan, karena masih menunggu perkembangan kondisi medis korban.
Rujukan ke RSHS Bandung menjadi tahap penting untuk memastikan kondisi DS secara menyeluruh. Keluarga berharap pemeriksaan tersebut dapat membuka jalan bagi pemulihan korban, sementara proses hukum tetap dikawal agar ada kejelasan pertanggungjawaban. (RHU)