JAKARTA, AFU.ID — Di tengah membiru dan tenangnya perairan Selat Sunda yang memisahkan Pulau Jawa dan Sumatra, tersembunyi sebuah 'laboratorium' alam paling dinamis sekaligus berbahaya di atas muka bumi. Di situlah gugusan pulau vulkanik seperti Rakata, Panjang, dan Sertung berdiri menjadi saksi bisu dari gejolak lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia yang tak pernah berhenti beradu. Jauh sebelum era modern, kompleks vulkanik Krakatau telah berdiri kokoh sebagai pulau besar yang disatukan oleh tiga kerucut gunung api utama: Perbuwatan di utara, Danan di tengah, dan Rakata di sisi selatan.
Kedamaian alami Selat Sunda itu runtuh secara dramatis pada 26 hingga 27 Agustus 1883. Setelah berbulan-bulan mengeluarkan suara gemuruh misterius yang membingungkan warga pesisir Banten dan Sumatra bagian Selatan, Krakatau mengalami katastrofe vulkanik terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Puncak ledakan dahsyat yang terjadi pada 27 Agustus pukul 10.02 pagi.
Krakatau tanpa peringatan menyemburkan jutaan ton gas panas, abu, dan batuan hingga melesat sejauh 80 kilometer ke lapisan atmosfer. Gelombang suaranya menggelegar dahsyat dan tercatat terdengar hingga jarak 4.800 kilometer di Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia.
Bencana ini tidak hanya menghancurkan tubuh gunung itu sendiri, tetapi juga memicu gelombang tsunami raksasa setinggi 30 hingga 40 meter—setara ketinggian pohon kelapa—yang menyapu bersih permukiman pesisir dan menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan hancur tenggelam ke dasar laut, membentuk kaldera raksasa yang kemudian terisi air.
Kerucut Danan dan Perbuwatan sirna seketika, meninggalkan hanya potongan besar Pulau Rakata yang terpisah. Dampak erupsi ini menyelimuti bumi dalam kegelapan selama bertiga-tiga hari, memicu fenomena langit merah menyala di seluruh belahan dunia, serta menurunkan suhu rata-rata global sebesar 1,2 derajat Celsius selama bertahun-tahun akibat halangan debu vulkanik terhadap sinar matahari.
Dari puing-puing kehancuran dahsyat tahun 1883 tersebut, alam menunjukkan keperkasannya untuk melahirkan kehidupan baru dari dasar kaldera. Aktivitas vulkanik di bawah laut Selat Sunda terus bergejolak hingga akhirnya pada 29 Desember 1927, kerucut gunung api muda yang tumbuh dari lokasi antara bekas Danan dan Perbuwatan mulai menembus permukaan air laut. Lahirlah sebuah gunung api baru yang kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau.
Sejak kemunculannya pada era 1920-an, Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi dengan pertumbuhan tubuh yang sangat cepat. Rata-rata mencapai 5 meter per tahun melalui erupsi efusif berupa lelehan lava dan letusan magmatik eksplosif tipe Strombolian.
Ketinggian tubuhnya terus bertambah secara konstan hingga sempat mencatatkan puncaknya di sekitar 338 meter di atas permukaan laut pada September 2018. Namun, tabiat destruktif sang induk tampaknya diwarisi dengan kuat. Pada 22 Desember 2018, erupsi Anak Krakatau memicu longsoran lereng bawah laut yang kembali mendatangkan bencana tsunami mematikan di pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa tragis yang menewaskan lebih dari 400 jiwa tersebut memangkas drastis tubuh Anak Krakatau dari 338 meter menjadi hanya tersisa sekitar 110 meter.
Meskipun pernah mengalami kehancuran fisik yang dahsyat, Anak Krakatau terbukti tak pernah benar-benar tidur. Karakter dasarnya sebagai gunung api tipe A yang sangat aktif membuatnya terus berupaya membangun kembali tubuhnya secara berkala. Gejolak terbaru kembali terjadi ketika tingkat aktivitasnya dinaikkan menjadi Level III atau Siaga sejak Juli 2026.
Memasuki awal September 2026, Anak Krakatau terus memuntahkan material vulkanik melalui erupsi menerus yang disertai suara dentuman keras yang terdengar berulang kali dari Pos Pantau Pasauran sejak Jumat malam hingga akhir pekan. Dampak dari rangkaian erupsi terbaru ini kian meluas dan menyasar sektor transportasi udara nasional.
Semburan debu dan abu vulkanik pekat yang membubung tinggi memaksa Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia menerbitkan (Notice to Airmen) NOTAM penutupan ruang udara secara darurat. Tiga bandara vital sekaligus, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta, serta Bandara Radin Inten II di Lampung, dipaksa menghentikan sementara operasinya demi keselamatan puluhan ribu penumpang.
Di kawasan pesisir, jejak abu tebal tampak menyelimuti permukaan kendaraan warga yang melintas, di mana beberapa di antaranya menorehkan pesan kewaspadaan bertuliskan "Awas Debu Krakatau, Pakai Masker" pada kaca mobil mereka yang tertutup abu tipis. Perjalanan panjang sejarah dari letusan legendaris Krakatau 1883 hingga dinamika erupsi Anak Krakatau saat ini menegaskan, kompleks vulkanik Selat Sunda adalah raksasa yang terus bernapas.
Di satu sisi, kehadiran Anak Krakatau menjadi objek studi ilmiah yang tak ternilai bagi para ahli vulkanologi dan penggerak ekonomi wisata lokal saat kondisi aman. Namun di sisi lain, potensi bencana fisik dan dampaknya bagi ruang udara penerbangan senantiasa menjadi pengingat yang nyata bahwa pengawasan, kesiapsiagaan, dan kehati-hatian atas aktivitas sang Anak Krakatau harus terus dijaga tanpa henti. (MAR)