AFU.ID, JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama JSPS Alumni Association of Indonesia (JAAI), Perhimpunan Periset Indonesia (PPI), dan Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) menyelenggarakan The General Assembly Meeting and the 9th International Symposium of JSPS Alumni Association of Indonesia (JAAI) mengusung tema ‘The JAAI Roles Towards a Golden Indonesia 2045’.
Kepala BRIN, Arif Satria menyampaikan bahwa JAAI dan PPI memiliki peran strategis dalam membangun dan menjaga jejaring kolaborasi riset internasional, khususnya antara Indonesia dan Jepang.
Menurutnya, selama bertahun-tahun JAAI dan PPI telah berhasil menyatukan para pemimpin, pakar, peneliti, insinyur, hingga profesional lintas disiplin untuk memperkuat ekosistem kolaborasi berbasis riset dan inovasi.
“JAAI berfungsi sebagai jembatan vital yang menjaga kemitraan antara akademisi Indonesia dan rekan-rekan mereka di Jepang. Kemitraan berbasis riset dan inovasi ini memainkan peran krusial dalam memperkuat hubungan yang lebih luas antara Indonesia dan Jepang,” ujar Arif Satria.
Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu terus mempertahankan hubungan internasional dan kemitraan akar rumput yang kuat melalui riset dan inovasi.
Kolaborasi ilmiah, lanjutnya, pada hakikatnya dibangun atas dasar kepercayaan dan hubungan personal yang terjalin melalui kerja sama jangka panjang di laboratorium maupun di lapangan.
“Dalam konteks ini, JAAI dan PPI menyediakan platform yang sangat baik untuk membangun jaringan baru dan kemitraan riset masa depan yang melibatkan akademisi Indonesia, Jepang, serta komunitas internasional,” katanya.
Arif Satria juga menilai tema kegiatan ini selaras dengan visi nasional Indonesia Emas 2045, khususnya dalam upaya menumbuhkan kapasitas inovasi dan meningkatkan daya saing nasional.
Ia menekankan bahwa kapabilitas riset dan inovasi diarahkan untuk mentransformasikan ide-ide potensial menjadi produk nyata yang berdampak bagi perekonomian.
“Sebagian besar topik yang dibahas dalam simposium ini berfokus pada upaya menjembatani kesenjangan antara riset dan dunia industri. Upaya ini harus terus dilanjutkan karena daya saing nasional mencerminkan kontribusi riset dan inovasi terhadap perekonomian,” ujarnya.
Forum ini menjadi wadah strategis bagi peneliti, akademisi, alumni JSPS, pemangku kepentingan riset, serta mitra industri untuk membahas kontribusi ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dalam mendukung pembangunan nasional.
Fokus pembahasan mencakup pengembangan sumber daya manusia unggul, inovasi di bidang pangan dan kesehatan, energi baru dan terbarukan, lingkungan, serta ilmu sosial dan humaniora.
Rangkaian kegiatan meliputi opening ceremony, keynote dan plenary sessions, sharing session, award lecture, workshop teknologi, presentasi oral dan poster, serta Rapat Umum Anggota JAAI.
Sejumlah tokoh dan pakar dijadwalkan hadir, antara lain Kepala BRIN, perwakilan JSPS, akademisi dari perguruan tinggi di Jepang dan Indonesia, serta perwakilan lembaga riset dan jejaring bisnis Indonesia-Jepang.
Pada hari kedua, kegiatan akan dilanjutkan dengan Workshop Perhitungan Jejak Karbon dan Life Cycle Assessment (LCA) sebagai pendekatan berbasis alat untuk pengambilan keputusan, serta pertemuan terkait SATREPS Biocircular Economy.
Kepala BRIN menyampaikan apresiasi kepada JSPS atas dukungan berkelanjutan bagi akademisi Indonesia serta kepada seluruh panitia dan peserta.
Arif Satria berharap forum ini menghasilkan diskusi yang bermakna dan memperkuat semangat kolaborasi riset di masa depan.