JAKARTA, AFU.ID — Sebanyak 34 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Indonesia masuk dalam Transparent Ranking of Universities: OpenAlex Edition edisi Juli 2026. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menempati posisi tertinggi di antara kampus Islam negeri Indonesia yang masuk dalam pemeringkatan tersebut. Ranking ini mengukur dampak publikasi ilmiah melalui jumlah karya yang masuk kelompok artikel paling banyak disitasi di dunia.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Suyitno mengatakan masuknya puluhan PTKIN menjadi salah satu indikator perkembangan kualitas riset dan publikasi ilmiah di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam. Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan publikasi dalam jumlah besar, tetapi juga harus memastikan karya tersebut memiliki kualitas dan dampak akademik.
“Capaian ini menunjukkan bahwa transformasi mutu PTKIN terus bergerak. Publikasi ilmiah tidak cukup hanya banyak, tetapi harus memiliki kualitas, relevansi, dan dampak yang dapat dirasakan oleh masyarakat serta komunitas akademik global,” kata Suyitno, Selasa (11/8/2026). Ia meminta capaian tersebut menjadi dorongan bagi kampus untuk memperkuat ekosistem penelitian dan kolaborasi internasional.
Dari 34 PTKIN yang masuk dalam ranking, sebanyak 22 merupakan Universitas Islam Negeri (UIN), 11 Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan satu Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN). Lima posisi teratas ditempati UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Raden Intan Lampung, UIN Sumatera Utara, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, serta UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
UIN Sunan Kalijaga tercatat berada pada peringkat ke-25 nasional dan 2.022 dunia dalam Transparent Ranking OpenAlex. Kampus tersebut memiliki 12 publikasi yang masuk kelompok Top 1% Most Cited Papers dan 154 publikasi di kelompok Top 10% Most Cited Papers untuk periode 2021–2025. Capaian itu menempatkan UIN Sunan Kalijaga sebagai PTKIN tertinggi dalam edisi kali ini.
Posisi kedua ditempati UIN Raden Intan Lampung, sedangkan UIN Sumatera Utara berada di urutan ketiga. UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melengkapi lima besar PTKIN Indonesia. UIN Sumatera Utara juga telah mengonfirmasi posisinya sebagai peringkat ketiga PTKIN nasional dalam pemeringkatan OpenAlex tersebut.
Pemeringkatan ini menggunakan data publikasi yang terdapat dalam basis data OpenAlex. Cybermetrics Lab menempatkan jumlah publikasi yang masuk kelompok 1 persen paling banyak disitasi sebagai kriteria utama, kemudian jumlah publikasi dalam kelompok 10 persen paling banyak disitasi sebagai kriteria kedua. Data yang dihitung berasal dari publikasi periode 2021–2025 dan dikumpulkan pada pekan pertama Juli 2026 dari hampir 17.400 perguruan tinggi dunia.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag Sahiron mengatakan indikator tersebut membuat OpenAlex memberikan gambaran berbeda dibanding pemeringkatan kampus yang lebih umum. Fokusnya bukan semata jumlah karya yang diterbitkan, tetapi seberapa jauh penelitian tersebut dibaca dan dijadikan rujukan oleh komunitas ilmiah. Kemenag karena itu mendorong PTKIN menghasilkan penelitian dengan kebaruan, kualitas metodologis, relevansi sosial, dan pengaruh ilmiah yang semakin kuat.
Transparent Ranking OpenAlex juga tidak sama dengan Webometrics meskipun keduanya berkaitan dengan Cybermetrics Lab. Cybermetrics secara tegas menyatakan data OpenAlex tersebut tidak digunakan sebagai Ranking Web of Universities, karena pemeringkatan ini secara khusus berfokus pada publikasi yang paling banyak disitasi. Sementara pada Webometrics Juli 2026, UIN Sunan Kalijaga berada di posisi ke-22 nasional dan 1.115 dunia dengan metodologi yang berbeda.
Masuknya 34 PTKIN menunjukkan bahwa kampus keagamaan Islam Indonesia yang tercatat dalam pemeringkatan riset global tidak hanya berasal dari kelompok UIN. Kehadiran 11 IAIN dan satu STAIN memperlihatkan dampak publikasi ilmiah juga mulai muncul dari kampus dengan bentuk kelembagaan yang lebih beragam. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan jumlah penelitian yang tidak hanya terbit, tetapi juga menjadi rujukan dalam percakapan akademik internasional.
(RHU)