JAKARTA, AFU.ID — Aksi gerombolan pemuda mengendarai sepeda motor sambil mengayun dan mengacungkan sajam jenis celurit berukuran besar viral di media sosial. Aksi melanggar ketertiban umum itu berlangsung di sepanjang Jalan Raya Palimanan-Klangenan di Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Dalam aksi tersebut, terlihat dua orang yang juga bagian dari sekelompok pembawa Sajam terjatuh ke pinggir jalan. Video berdurasi hampir 2 menit itu, sekelompok pembawa Sajam itu terus menyabet celurit yang dibawa ke lawannya. Para pengemudi lain pun terlihat was-was. Meski demikian, identitas mereka belum diketahui lebih lanjut. Warga pun mendesak pihak kepolisian untuk menindaklanjuti aksi tersebut.
Beragam komentar netizen membanjiri video dalam unggahan yang disaksikan Afu.id, Kamis (20/8/2026). Umumnya mereka mempertanyakan fungsi pengawasan aparat kepolisian. Mereka membandingkan dengan demo mahasiswa di Bundaran HI yang menerjunkan puluhan ribu aparat untuk mengamankan demo, tetapi untuk mengamankan gerombolan perusuh di jalanan tidak bisa. “Harusnya mereka bisa kan menangani oknum ga berfaedah ini,” kata akun X @karimwidia_.
Netizen dengan akun X @halimlubis memberi komentar pedas namun menohok. Katanya, “Dia pikir keren kali ya, begitu kena sayat juga langsung tepar.” Pengguna X lain malah mengusulkan hukuman mati kepada mereka yang dengan sengaja menganggu ketertiban umum. “Polisi atau aparat lain kalau melihat aksi yang sengaja membunuh orang lain ini sebaiknya ditembak mati aja, itu sampah masyarakat, pantasnya dibuang di tempat sampah,” tulisnya.
Senada, @romanistiA40303 juga mengatakan para pelaku tidak pantas mendapatkan perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). “Mereka yang jahat duluan,” ujarnya. Sebagian besar netizen lain juga menyebut mereka lebih baik ditabrak oleh pengguna jalan yang lain.
Gerombolan geng motor tidak hanya meresahkan warga Cirebon. Baru-baru ini, kejadian serupa terjadi di Kota Medan. Sembilan pelaku yang terlibat aksi berbahaya itu diamankan polisi. Mereka adalah FCP (17), ZRP (15), MRAS (16), MASN (16), MRU (16), BAM (17), MHR (15), serta sepasang anak kembar berinisial RIMN dan RINN, masing-masing berusia 16 tahun. Mirisnya, para pelaku yang masih duduk di bangku sekolah itu bahkan melakukan begal ke kelompok lawan.
Polisi mengungkap, sembilan pelaku itu merupakan anggota geng motor Born To Be Ok (Bornox). Anggotanya berasal dari tiga sekolah berbeda, yaitu SMKN 5 Medan, SMAN 7 Medan, dan SMAN 3 Medan. Berdasarkan keterangan polisi, peristiwa ini bermula dari pertandingan futsal antar-SMA yang digelar di GOR Dispora Pancing, Jalan William Iskandar. Tim yang didukung para pelaku kalah dalam pertandingan tersebut, yang memicu rasa kesal di antara mereka.
"Jadi, setelah tanding itu, kalah. Kesal lah, jadi mereka rolling mencari-cari musuh," ujar polisi. Usai kekalahan itu, para pelaku mendatangi sebuah lokasi di sekitar GOR untuk mengambil senjata tajam yang sebelumnya telah mereka siapkan. Setelah senjata di tangan, mereka melakukan konvoi berkeliling mencari lawan.
Sesampainya di Jalan Aksara, mereka melihat salah satu pendukung tim lawan sedang mengendarai sepeda motor sendirian. Tanpa basa-basi, korban langsung diserang oleh rombongan geng motor tersebut. Ketakutan, korban memilih menyelamatkan diri dengan meninggalkan sepeda motornya. Para pelaku kemudian merampas motor tersebut dan menyembunyikannya di suatu tempat. Aksi konvoi berlanjut ke sejumlah ruas jalan lain, mulai dari Jalan Krakatau, Jalan Cemara, hingga kawasan Flyover Brayan. (NAD)