AFU.id

Mengapa Imigrasi Malaysia 3 Kali Gagal Deteksi Narkoba?

Bagikan:

Penulis: Erik Erfinanto

Ringkasan Berita

Otoritas Malaysia mengungkap bahwa kopilot Malaysia Airlines, Mohd Saufi bin Othman, berhasil menyelundupkan narkoba ke Indonesia dengan mengelabui sistem pemindaian di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), meskipun telah melakukannya tiga kali sebelumnya. Penjelasan terkait kegagalan deteksi ini menyoroti penggunaan teknologi kecerdasan buatan yang tidak menunjukkan risiko tinggi, sehingga tidak dilakukan pemeriksaan fisik tambahan. Pihak berwenang Malaysia kini menyelidiki kemungkinan adanya celah keamanan dan keterlibatan oknum petugas bandara, serta berkoordinasi dengan Bareskrim Polri untuk mengusut kasus ini lebih lanjut.

Mengapa Imigrasi Malaysia 3 Kali Gagal Deteksi Narkoba?
Kopilot Malaysia Airlines, Mohd Saufi bin Othman (39) yang ditangkap Imigrasi Indonesia karena membawa narkoba. (Foto Istimewa)

Shuhaily menjelaskan sistem pemeriksaan bagasi di KLIA menggunakan kombinasi teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan penilaian manual oleh petugas. Sistem AI berfungsi membantu menentukan tingkat risiko dari hasil pemindaian. Namun, keputusan akhir untuk melakukan pemeriksaan lanjutan tetap berada di tangan operator. Karena koper milik Mohd Saufi tidak memunculkan indikasi risiko tinggi, petugas tidak melakukan pemeriksaan fisik tambahan atau secondary screening. “Sistem menggunakan AI sampai batas tertentu, tetapi tidak seperti yang dilihat orang di televisi. Sistem ini tetap membutuhkan penilaian operator. AI membantu proses tersebut, tetapi keputusan akhir ada pada petugas pemindai,” ujarnya.

Shuhaily menduga narkotika tersebut disembunyikan menggunakan metode tertentu yang dirancang untuk mengelabui hasil pemindaian sinar-X. Penjelasan itu menjadi jawaban sementara atas bagaimana koper tersebut bisa lolos dari pemeriksaan di KLIA. Namun, fakta bahwa tersangka mengaku telah tiga kali membawa narkotika ke Indonesia membuat otoritas Malaysia kini menelusuri kemungkinan adanya celah lain, termasuk keterlibatan orang dalam.

Untuk mengusut celah keamanan tersebut, Kepolisian Kerajaan Malaysia atau PDRM mengirim perwira dari Jabatan Siasatan Jenayah Narkotik (JSJN) ke Indonesia. Mereka akan berkoordinasi langsung dengan penyidik Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri. AKPS juga tidak menutup kemungkinan adanya praktik “konspirasi internal” atau pengaturan khusus yang melibatkan oknum petugas bandara.

Shuhaily menegaskan pihaknya tidak akan menoleransi pelanggaran integritas apabila penyelidikan membuktikan adanya keterlibatan personel AKPS. “Jika polisi menemukan adanya permainan curang yang melibatkan petugas saya, maka tidak ada batu yang tidak dibalik. Saya juga tidak akan ragu untuk membagikannya kepada media,” kata Shuhaily seperti dilansir The Straits Times. Setelah insiden tersebut, seluruh pemangku kepentingan bandara bersama otoritas terkait menggelar rapat khusus untuk mengevaluasi dan memperketat protokol pemeriksaan di bandara Malaysia. Sistem keamanan di KLIA juga menjadi bagian dari evaluasi. (EER)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi