JAKARTA, AFU.ID — Terdakwa kasus korupsi pengadaan Chromebook tahun 2020-2022, Nadiem Anwar Makarim menyebut sifat profesionalisme yang ia miliki selama menjadi menteri telah membentuk persepsi negatif di lingkungan jabatan publik.
Eks menteri Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi tersebut mengeklaim dirinya terlalu fokus melakukan kerja nyata yang profesional dan tidak memahami seluk beluk politik. Hal tersebut katanya, menyebabkan dirinya kurang bersilaturami ke berbagai tokoh yang ia yakini sebagai tata krama politik.
Dalam sidang pledoinya, Nadiem menyebut sifat profesionalisme yang ia miliki kerap membuat dirinya menolak undangan acara yang tidak berhubungan langsung dengan programnya, sehingga membuat banyak pihak tersinggung.
Nadiem juga menuturkan kebiasaannya memotong basa-basi di awal pertemuan demi langsung masuk ke materi, membuatnya terlihat tidak santun.
Ia menambahkan tak hanya kurang menyentuh berbagai tokoh politik, dirinya juga kerap pelit waktu dengan media karena menganggap kerja nyata lebih penting daripada sekadar terlihat bekerja. Seluruh perilaku tersebut, menurut Nadiem, menumbuhkan persepsi angkuh, kurang berbudaya, dan kurang santun di lingkungan pemerintahan.
Ia menilai hal itu sebagai kesalahannya selama mengemban jabatan menteri, jabatan yang ia akui terlambat ia pahami sebagai jabatan politik. "Saya meremehkan ritual politik, padahal itulah yang bisa membuat perubahan yang berkesinambungan," ujar Nadiem (2/6).
Nadiem pun kembali menegaskan seharusnya ia memprioritaskan hubungan baik lintas institusi dan organisasi dalam jabatan politik, bukan sifat acuh karena profesionalismenya. Dalam hal ini, Nadiem mengungkapkan dukungan semua pihak sebagai syarat agar sebuah perubahan dapat berkelanjutan.
Nadiem menutup pledoinya dengan pesan bagi generasi berikutnya yang hendak mengabdi kepada negara agar menemukan keseimbangan antara profesionalisme dan tata krama politik. (NAD)