JAKARTA, AFU.ID — Cuaca yang makin tidak menentu ikut mengubah risiko penyakit pada anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut kenaikan suhu bumi dan perubahan pola hujan dapat memperluas penyebaran demam berdarah dengue, malaria, dan diare.
Anggota Satuan Tugas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, Riyadi, mengatakan perubahan lingkungan membuat vektor penyakit lebih mudah berkembang biak. Akibatnya, penyakit tropis bisa muncul di wilayah yang sebelumnya tidak banyak mencatat kasus serupa.
“Sekarang daerah-daerah yang dulu tidak kenal demam berdarah mulai muncul kasusnya,” kata Riyadi dalam seminar media IDAI memperingati Hari Lingkungan Hidup, Selasa, (9/6/2026).
Menurut Riyadi, nyamuk pembawa demam berdarah dengue (DBD) dan malaria sangat dipengaruhi suhu lingkungan. Kenaikan suhu membuat nyamuk dapat bertahan hidup di wilayah yang sebelumnya terlalu dingin untuk menjadi tempat berkembang biak.
Perubahan pola curah hujan juga memperbesar risiko penularan. Hujan yang tinggi dapat meninggalkan banyak genangan air, sehingga menciptakan tempat berkembang biak bagi nyamuk.
“Kalau curah hujan tinggi, biasanya risiko demam berdarah meningkat karena banyak genangan yang menjadi tempat nyamuk berkembang,” ujarnya.
IDAI juga menyoroti risiko diare pada anak. Cuaca ekstrem, banjir, dan gangguan sanitasi dapat memperburuk akses air bersih, terutama di wilayah dengan fasilitas lingkungan yang belum memadai.
Kondisi tersebut membuat anak menjadi kelompok yang lebih rentan. Daya tahan tubuh anak belum sekuat orang dewasa, sementara paparan air tercemar dapat mempercepat penyebaran penyakit berbasis lingkungan.
Riyadi menjelaskan perubahan iklim mengganggu keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan agen penyebab penyakit. Patogen dapat berpindah ke wilayah baru, sementara vektor pembawa penyakit tumbuh di lokasi yang sebelumnya tidak mendukung penyebaran.
Karena itu, pencegahan penyakit anak tidak cukup hanya dilakukan setelah kasus muncul. Pengendalian jentik, penguatan sanitasi, akses air bersih, dan edukasi keluarga perlu berjalan bersama antisipasi cuaca ekstrem.
Riyadi mengatakan perubahan pola penyakit harus dibaca sebagai peringatan serius. Ketika iklim berubah, penyakit yang sensitif terhadap lingkungan juga ikut berubah pola penyebarannya.
“Anak-anak menjadi kelompok yang paling perlu kita lindungi,” kata Riyadi. (RHU)