JAKARTA, AFU.ID — Rupiah melemah. Utang bertambah. Daya beli tertekan. Namun bagi pengamat ekonomi Yanuar Rizky, masalah terbesar Indonesia saat ini bukan semata soal angka-angka itu. Yang lebih mengkhawatirkan adalah kepercayaan yang mulai menguap.
Dalam podcast salah satu kanal Youtube yang dipandu Poempida Hidayatulloh, Minggu, 31 Mei 2026, Yanuar melontarkan peringatan keras. Menurutnya, Indonesia sedang berada di fase puncak krisis kepercayaan pasar.
"Menurut saya, krisis kepercayaan sudah di puncak," kata Yanuar.
Pernyataan itu bukan tanpa dasar. Ia memaparkan serangkaian indikator yang menurutnya menunjukkan adanya tekanan serius pada fondasi ekonomi nasional.
Salah satunya, nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Bagi Yanuar, pasar mulai melihat adanya kemungkinan terbentuknya keseimbangan baru di level yang lebih rendah.
Artinya, pelemahan rupiah tidak lagi dipandang sebagai gejolak sesaat.
Di saat yang sama, pemerintah dinilai menghadapi tantangan likuiditas yang tidak ringan. Yanuar menyoroti kondisi arus kas negara, mulai dari data SILPA hingga strategi front-loading pembiayaan yang menunjukkan kebutuhan dana semakin besar.
Yang membuatnya semakin waspada adalah kondisi pasar surat utang negara.
Menurutnya, bit ratio atau tingkat kelebihan permintaan pada lelang surat utang mengalami penurunan tajam. Jika sebelumnya berada di kisaran 2,5 kali, kini hanya berkisar 1,4 hingga 1,5 kali.
Bagi pelaku pasar, angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah sinyal. Sinyal bahwa minat investor mulai berkurang. Sinyal bahwa pasar mulai berhitung ulang terhadap risiko. Sinyal bahwa kepercayaan tidak lagi setebal sebelumnya.
Dalam situasi seperti itu, penyerapan surat utang disebut semakin banyak ditopang Bank Indonesia. Di sisi lain, ketergantungan terhadap investor asing untuk membiayai defisit berpotensi menambah tekanan terhadap rupiah apabila terjadi pembalikan arus modal.
Yanuar juga menyoroti langkah pemerintah menerbitkan global bond. Menurutnya, instrumen itu memang membuka ruang pembiayaan. Namun pasar internasional tidak menunjukkan antusiasme sebesar yang diharapkan.
Di level masyarakat, gambaran yang muncul tidak kalah mengkhawatirkan. Konsumsi memang masih bergerak. Transaksi tetap terjadi. Pusat perbelanjaan belum sepi.
Tetapi Yanuar melihat ada cerita lain di baliknya. Penggunaan pinjaman online meningkat. Transaksi kartu kredit bertambah. Kredit bermasalah ikut naik.
Fenomena ini dikenal sebagai lipstick effect. Ekonomi terlihat hidup dari luar. Namun sebagian konsumsi ditopang oleh utang, bukan oleh peningkatan pendapatan.
"Tabungan masyarakat menipis. PHK meningkat. Tapi konsumsi tetap dipertahankan," ujarnya.
Kondisi tersebut, menurutnya, dapat berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas.
Kelompok rentan akan menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Guru honorer, pekerja informal, hingga masyarakat berpenghasilan rendah menghadapi tekanan yang semakin berat.
Jika dibiarkan, tekanan ekonomi bisa menjelma menjadi konflik sosial, peningkatan kriminalitas, hingga ketegangan antarkelompok.
Karena itu, Yanuar meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan instrumen teknokratis.
Ia menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: dialog. Dialog dengan pasar. Dialog dengan serikat pekerja. Dialog dengan pelaku usaha. Dialog dengan masyarakat.
"Pemerintah harus mencari kawan bersama. Harus ada social dialogue," tegasnya.
Menurut Yanuar, transparansi dan komunikasi yang jujur jauh lebih dibutuhkan dibanding narasi yang terus menegaskan bahwa semuanya baik-baik saja.
Sebab ketika realitas yang dirasakan masyarakat berbeda dengan narasi yang didengar, jurang ketidakpercayaan akan semakin lebar.
Dan dalam sejarah ekonomi, banyak krisis besar tidak dimulai oleh runtuhnya angka. Krisis sering kali dimulai ketika kepercayaan lebih dulu meninggalkan pasar. (*)