JAKARTA, AFU.ID – PT Perkebunan Nusantara (PTPN I) memperkuat produksi tembakau premium untuk memenuhi kontrak ekspor industri cerutu dunia. Perusahaan menyiapkan peningkatan kualitas, produktivitas, dan perluasan areal tanam agar pasokan tetap terjaga. Direktur Utama PTPN I, Teddy Yunirman Danas, mengatakan dua jenis tembakau premium yang menjadi andalan perusahaan adalah Tembakau Besuki Bawah Naungan dan Tembakau Deli.
Keduanya selama ini digunakan sebagai bahan baku pembungkus atau wrapper cerutu premium. “Tembakau Besuki Bawah Naungan dan Tembakau Deli telah lama diakui secara global sebagai bahan baku pembungkus atau wrapper cerutu premium terbaik di dunia,” kata Teddy saat dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu. Menurut Teddy, tembakau Besuki Bawah Naungan dan Deli memiliki karakter daun yang elastis, halus, warna premium, stabilitas bakar baik, serta aroma khas.
Karakter tersebut membuat produk PTPN I diminati pembeli dari Eropa, Amerika Latin, dan sejumlah kawasan lain. “Konsistensi kualitas spesifik inilah yang membuat produk PTPN I menjadi pilihan utama industri cerutu mewah dunia,” ujarnya. Teddy mengatakan PTPN I akan memperbesar produksi untuk merespons permintaan pasar ekspor. Selain volume, perusahaan juga akan menjaga kualitas tembakau agar tetap sesuai kebutuhan industri cerutu premium.
Produksi tembakau PTPN I dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren naik. Pada 2021, volume produksi tercatat 748.638 kilogram. Angka itu sempat turun menjadi 729.544 kilogram pada 2022. Produksi kemudian meningkat menjadi 932.837 kilogram pada 2023. Tren positif berlanjut pada 2024 dengan produksi 974.489 kilogram. Pada 2025, produksi tetap berada di level tinggi, yakni 972.243 kilogram.
Kenaikan produksi juga diikuti peningkatan produktivitas lahan. Produktivitas tembakau PTPN I tercatat 1.238 kilogram per hektare pada 2021, lalu turun menjadi 1.090 kilogram per hektare pada 2022. Produktivitas kembali naik menjadi 1.372 kilogram per hektare pada 2023 dan 1.382 kilogram per hektare pada 2024. Pada 2025, produktivitas mencapai 1.397 kilogram per hektare.
Teddy mengatakan peningkatan produktivitas menjadi modal penting untuk memenuhi kontrak internasional. Pada musim tanam 2026, PTPN I menanam tembakau hingga 500 hektare. “Langkah konkret ini diambil demi menjamin kontinuitas pasokan dalam memenuhi kontrak-kontrak internasional,” kata Teddy. Menurut Teddy, permintaan tembakau premium masih datang dari segmen pasar cerutu mewah.
Pasar tersebut mencakup produk gaya hidup premium, kolektor, hingga sektor perhotelan kelas atas. Ia menilai tembakau premium Indonesia memiliki peluang karena pasar global mulai memberi perhatian pada produk dengan identitas asal yang kuat. PTPN I menilai kualitas menjadi faktor utama dalam menjaga pasar ekspor cerutu. Karena itu, perusahaan berupaya mempertahankan karakter khas Tembakau Besuki Bawah Naungan dan Deli.
Di sisi lain, perusahaan juga menghadapi tantangan perubahan iklim. Teddy mengatakan tembakau merupakan tanaman semusim yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Untuk menjaga stabilitas mutu, PTPN I menerapkan strategi dari hulu ke hilir. Langkah itu mencakup penyesuaian kalender tanam, pemantauan cuaca secara langsung, penggunaan varietas yang adaptif, serta penguatan praktik budidaya berkelanjutan.
Perusahaan juga memperketat pengawasan mutu dan ketertelusuran produk sejak pembibitan hingga pascapanen. “Dari aspek jaminan mutu, manajemen memperketat quality control dan menerapkan sistem ketertelusuran ketat dari fase pembibitan hingga pascapanen,” ujar Teddy. PTPN I menyatakan penguatan produksi tembakau premium dilakukan untuk menjaga posisi Indonesia dalam rantai pasok industri cerutu global. Perusahaan menargetkan Tembakau Besuki Bawah Naungan dan Deli tetap menjadi produk andalan untuk memenuhi permintaan pasar ekspor. (FAD)