JAKARTA, AFU.ID — Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan para pengambil kebijakan sektor ekonomi dan keuangan di Istana Kepresidenan Jakarta, di tengah tekanan yang melanda pasar modal domestik serta meningkatnya perhatian terhadap langkah Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang tengah mengkaji status pasar Indonesia. Pertemuan itu berlangsung saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dibayangi sentimen negatif yang memicu pelemahan pasar dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Rapat tersebut dihadiri Airlangga Hartarto, Friderica Widyasari Dewi, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti, Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, serta Suroso Isnandar. Kehadiran para pejabat tersebut memunculkan spekulasi bahwa pemerintah tengah mengonsolidasikan respons terhadap dinamika pasar dan sejumlah isu ekonomi strategis.
Sorotan utama pasar saat ini tertuju pada konsultasi yang dibuka MSCI terkait usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari kategori emerging market menjadi standalone market. Wacana tersebut muncul bersamaan dengan tekanan terhadap IHSG dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar mengenai persepsi investor global terhadap pasar keuangan Indonesia.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengaku telah menyiapkan laporan untuk disampaikan kepada Presiden. Namun, ia belum memastikan apakah pembahasan mengenai MSCI menjadi agenda utama pertemuan tersebut. “Saya belum tahu, saya hanya dipanggil. Namun, saya sudah menyiapkan seluruh laporan,” ujar Friderica sebelum memasuki kompleks Istana.
Sementara itu, Airlangga Hartarto menegaskan isu MSCI sebelumnya telah menjadi perhatian dan sudah dibahas bersama pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Menurut dia, pelemahan pasar saham merupakan respons yang lazim ketika muncul sentimen negatif yang memengaruhi keputusan investor “MSCI kemarin sudah dibahas di Bursa,” kata Airlangga, Senin (19/10/2026).
Airlangga juga menilai volatilitas pasar merupakan bagian dari dinamika yang dipengaruhi isu dan sentimen yang berkembang. Ia menyebut proses konsultasi MSCI masih berlangsung dan belum menghasilkan keputusan final mengenai status pasar Indonesia. “Masih sampai Juni tahun depan. Biasanya mereka memberikan sedikit tekanan,” ujarnya.
Di sisi lain, Bahlil Lahadalia mengindikasikan rapat bersama Presiden turut membahas perkembangan ekonomi nasional dan agenda hilirisasi. Namun, hingga pertemuan berlangsung, belum ada penjelasan resmi mengenai langkah konkret yang akan ditempuh pemerintah untuk merespons tekanan pasar maupun perkembangan terbaru terkait MSCI. “Sepertinya rapat membahas ekonomi, termasuk hilirisasi,” kata Bahlil.
Hingga Senin sore, Istana belum menyampaikan hasil rapat tersebut. Namun pertemuan yang mempertemukan pimpinan OJK, Bank Indonesia, kementerian ekonomi, dan pengelola investasi negara itu menjadi sinyal bahwa pemerintah memberikan perhatian langsung terhadap gejolak pasar keuangan dan meningkatnya sorotan terhadap posisi Indonesia di mata investor global. (RHU)