NARASI “The New Tiger of Asia” kembali viral dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini dipicu oleh keajaiban ekonomi Vietnam yang tumbuh secara tahunan (year on year) pada kuartal ketiga 2026 sebesar 9,95 persen dan secara kumulatif hingga September 2026 tumbuh 9,01 persen.
Kata kunci keajaiban ekonomi Vietnam terletak pada pergeseran model transformasi ekonominyadari exogenous growth model ala Robert Solow, pemenang hadiah nobel ekonomi tahun 1987 keendogenous growth model yang diperkenalkan oleh Paul M. Romer, penerima hadiah nobelekonomi tahun 2018.
Exogenous growth model menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi jangka panjang hanyadipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang bersumber dari luar negara bersangkutan. Sementara, endogenous growth model menekankan bahwa kemajuan teknologi dan peningkatanproduktifitas harus bersumber dari kekuatan internal suatu negara.
The New Tiger of Asia
Terminologi “The New tiger of Asia” mengingatkan kita pada lebih satu dekade yang lalu, tepatnya 7 September 2016, majalah Forbes menurunkan laporan berjudul “Vietnam Poised To Be Asia's Next Economic Tiger”. Pada saat itu, pertumbuhan tahunan ekonomi Vietnam sekitar6,68 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya 4,94 persen.
Modal utama Vietnam menjadi “macan Asia baru” adalah jumlah populasi sekitar 90 juta orang yang mayoritas berusia muda. Usia median (tengah) sekitar 30,7 tahun. Pada umumnya adalahpekerja berpendidikan dan berketerampilan tinggi.
Lebih dari satu dekade yang lalu, sesuai laporan Forbes (7/9/2016) pengeluaran pemerintahVietnam untuk sektor pendidikan mencapai sekitar 6,3 persen dari Gross Domestic Product-nya(GDP). Jauh lebih tinggi dibandingkan anggaran pendidikan Indonesia yang hanya 3,3 persenGDP-nya pada tahun 2016 (UNESCO – World Bank, 2016).
Pengeluaran pendidikan yang besar membuat rengking global PISA Vietnam hingga saat ini,dalam bidang matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), untuk anak berusia 15 tahun di secara regular mengalahkan Amerika Serikat (AS) dan United Kingdom (UK).
Hal ini berdampak pada tingginya kapasitas dan keterampilan tenaga kerja Vietnam dalammenyelesaikan pekerjaan yang sangat kompleks. Melimpahnya ketersediaan tenaga kerjaterampil dan berpendidikan tinggi menjadi modal awal mengadopsi teknologi manufaktur terbaruyang masuk ke Vietnam melalui Foreign Direct Investment (FDI).
Fenomena keajaiban ekonomi Vietnam mengingatkan kita pada terminologi “Asian Tiger” atau“Macan Asia” yang mewakili keajaiban transformasi ekonomi Korea Selatan (Korea), Taiwan, Singapura dan Hong Kong beberapa dekade sebelumnya.
Istilah “Macan Asia” diberikan kepada negara Asia yang mampu mencapai pertumbuhanekonomi tinggi secara berkesinambungan dalam satu dekade atau lebih. Serta mengalamikemanjuan pesat dalam industri manufaktur, berinvestasi dalam pengembangan teknologi dan memiliki kapasitas inovasi kuat yang mendukung kemajuan industri manufaktur.
Terminologi “Macan Asia” diberikan kepada negara dengan kualitas Sumber Daya Manusia(SDM) tinggi, memiliki angkatan kerja terdidik dan terampil lebih dari separuh angkatan kerja(labor force).
Ketersediaan tenaga kerja terdidik dan terampil yang tinggi membuat Global Innovation Index(GII) Vietnam tahun 2026 naik menjadi peringkat 43. Jauh meninggalkan Indonesia yang beradadi peringkat 55 dunia. Nilai GII yang tinggi mencerminkan kemampuan suatu negara mentransformasi ekonominyamemasuki innovation based economy, yaitu perekonomian berbasis inovasi yang digerakkanoleh Research and Development (R&D).
Keunggulan GII Vietnam dibandingkan dengan Indonesia terletak pada kemampuannyamembangun keterkaitan (linkage) yang kuat antara kapasitas inovasi domestik dengan luarnegeri. Hal ini dilakukan melalui rantai pasok global (global supply chain), perdagangan barang-barang berteknologi tinggi, digitalisasi, intellectual property right (IPR) dan pengembangan perusahaanrintisan (startup).
Sejalan dengan World Intellectual Property Organization (WIPO), perekonomian Vietnam lebihsiap dibandingkan Indonesia masuk ke dalam “top 40” peringkat GII. Hal ini berkaitan dengansejumlah indikator, seperti kapasitas R&D yang luas, bisnis R&D yang sangat kuat, kedalamanhubungan antara ilmu pengetahuan dengan pengembangan industri manufaktur, dan besarnyakemampuan menghasilkan pengetahuan baru di dalam negeri.
Implikasinya, sejak satu dekade terakhir, pertumbuhan ekonomi Vietnam selalu lebih tinggidibandingkan dengan Indonesia, yaitu sekitar 6 – 7 persen. Sementara Indonesia mengalami “5% growth trap” atau jebakan pertumbuhan 5,0 persen. Keajaiban ekonomi Vietnam berlanjut hingga kuartal pertama tahun 2026, mengalamipertumbuhan tahunan sebesar 8,15 persen, lalu naik menjadi 8,81 persen pada kuartal kedua, dan mengalami percepatan menjadi 9,95 persen pada kuartal ketiga 2026.
Kontributor utama pertumbuhan ekonomi Vietnam adalah sektor manufaktur yang tumbuh 12,50 persen dan menyumbang 51,57 persen GDP-nya. Demikian juga sektor jasa-jasa yang tumbuh9,54 persen dan menyumbang 43,29 persen GDP. Selanjutnya sektor pertanian tumbuh paling rendah 4,21 persen dengan kontribusi sangat kecil, hanya 5,14 persen GDP-nya.
Sementara pada sisi permintaan (expenditure), pertumbuhan tertinggi dialami oleh ekspor dan impor, yaitu masing-masing, ekspor tumbuh 23,27 persen dan impor mengalami pertumbuhansekitar 28,75 persen. Selanjutnya, investasi tumbuh 21,39 persen dan konsumsi rumah tanggatumbuh 8,96 persen.
Hingga tiga kuartal tahun 2026, secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Vietnam mencapaisekitar 9,01 persen. Mendekati target pemerintah, tumbuh sebesar 10 persen pada tahun 2026 (Trading Economics, 2026). Hal ini didukung oleh belanja pemerintah untuk pembangunaninfrastruktur yang sangat besar.
Pelajaran Dari Vietnam
Apa yang bisa dipelajari dari kisah sukses Vietnam menjadi “The New Tiger of Asia”? Pertama, mendongkrak efisiensi ekonominya yang tercermin pada Incremental Capital Output Ratio(ICOR) dari lebih 6,5 pada tahun 2016 menjadi 5,85 tahun 2026. Direncanakan menjadi 3,58 – 4,6 tahun 2030.
Kedua, besarnya lapisan pekerja berpendidikan tinggi dan terampil yang menjadi penggerakinovasi teknologi, meningkatkan efisiensi dan mengakselerasi pertumbuhan produktifitas. Terdapat sekitar 87,26 persen angkatan kerja di Vietnam yang merupakan lulusan pendidikantinggi atau sederajat (World Bank, 2026).
Para pekerja profesional berpendidikan tinggi menjadi faktor utama dalam mengadopsi teknologimanufaktur terbaru. Menjadikan peringkat Economic Complexity Index (ECI) Vietnam lebih baikdari Indonesia, yaitu Vietnam peringkat 45 dan Indonesia peringkat 69 secara global.
Ketiga, pemerintah Vietnam fokus membangun integrated industrial estate (kawasan industritertegrasi) yang sudah mencapai areal seluas dua juta hektar. Pada saat yang sama Indonesia hanya memiliki 24 ribu hektar kawasan industri terintegrasi (Kemenko Ekonomi RI, 2026).
Keempat, mendongkrak belanja R&D baik oleh pemerintah maupun sektor swasta. Targetnya, belanja R&D Indonesia sebagai rasio terhadap GDP naik dari sekitar 0,30 persen GDP menjadi1,0 persen GDP hingga tahun 2030.
Kelima, membangun keterkaitan yang kuat antara perguruan tinggi sebagai knowledge and R&D centre dengan sektor industri manufaktur nasional. Keterkaitan ini akan mengakselerasi lahirnyainovasi baru dan meningkatkan efisiensi yang akan mendongkrak pertumbuhan produktifitasperekonomian nasional.
Keenam, untuk mengakeselerasi pengembangan integrated industrial estate, pemerintahIndonesia dapat mengadopsi pendekatan aglomerasi ekonomi berbasis propinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Tujuannya, menyamai Vietnam dalam pembangunan integrated industrial estate denganmempercepat perluasan areal integrated industrial estate menjadi sekitar satu juta hektar dalamlima tahun hingga 2030 dan dua juta hektar dalam 10 tahun pada tahun 2035.
Ketujuh, meningkatkan skor PISA Indonesia hingga menyamai Vietnam, sama dengan skor PISA negara maju untuk bidang sains (IPA) dari 389 menjadi 457, bidang matematika dari skor 364 menjadi 443, literasi membaca dari 365 menjadi 392 dan kemampuan computational problem solving dari 427 menjadi 461 dalam lima tahun ke depan.
Kedelapan, untuk masuk dalam kelompok “The New Tiger of Asia”, tahapannya dimulai darimendongkrak lapisan pekerja berpendidikan dan berketerampilan tinggi sehingga mencapai lebihdari separuh labor force.
Untuk itu, pemerintah dapat menata ulang kebijakan pendidikan, dengan fokus pada akses tanpabatas terhadap secondary school hingga pendidikan tinggi atau sederajat dengan fokus utamapada bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).
Akhirnya, status Vietnam sebagai "The New Tiger of Asia” memberikan pelajaran berharga baginegara-negara tetangga di kawasan: bahwa lompatan besar dimulai dari pembenahanfundamental, terutama di sektor pendidikan dan STEM. Kini, pilihan ada di tangan kita. Apakah hanya akan menjadi penonton dari luar arena, atau bersiap mengambil langkah berani untukmenyusul auman sang macan. (AFU)