Oleh: Sansulung Darsum (Pengulas Democracy, Religion, Society, Market/DRSM - Penganjur Disseminating Responsibility in Social Media)
JAKARTA, AFU.ID — Persoalan terbesar bangsa kita hari ini itu sebenarnya bukan krisis ekonomi atau krisis politik. Kalau cuma soal ekonomi, kita sudah berkali-kali jatuh bangun. Kalau soal politik, kita ini gudangnya ahli siasat.
Masalah terbesar kita saat ini adalah krisis kepercayaan yang disertai ketiadaan figur seperti Gus Dur, Yap Thiam Hien, atau Suster Brigitta. Kita ini sedang kehilangan ‘wajah-wajah merdeka’.
Wajah-wajah yang kalau bicara, orang tidak perlu curiga ada udang di balik bakwan. Wajah-wajah yang kalau berdiri, tegaknya bukan karena disangga kepentingan, tapi karena tulang punggungnya memang terbuat dari keadilan.
Merdeka Sejak dalam Pikiran
Dulu, kita punya stok manusia bermutu tinggi seperti itu. Gus Dur yang humornya adalah kritik paling tajam namun paling memeluk. Yap Thiam Hien yang integritasnya lebih kokoh dari beton pengadilan mana pun.
Dan dari Timur, kita punya Suster Brigitta Renyaan, biarawati yang menembus barikade api di Ambon bukan dengan senjata, tapi dengan nyali kemanusiaan yang mutlak.
Mereka itu jenis manusia yang kalau hidup di zaman medsos sekarang, mungkin bakal sering di-report massal oleh dua belah pihak yang bertikai. Kenapa? Karena mereka bermental merdeka. Mereka itu bukan sekadar tokoh. Mereka itu adalah ‘manusia merdeka’.
Manusia merdeka itu cirinya satu: dia sudah selesai dengan urusan perut dan gengsinya sendiri. Maka, dia punya sisa energi yang melimpah untuk memikirkan sesama manusia. Baik yang satu tim maupun tim lawan.
Keberanian Menjadi ‘Anak Nakal’ demi Keadilan
Hal paling mewah—dan paling langka—dari figur-figur ini adalah kemampuan untuk objektif di tengah ‘gengnya’. Di zaman sekarang, kalau kita membela orang, biasanya kita tanya dulu: ‘Dia kartu anggotanya apa?’ atau ‘Dia dukung siapa?’.
Tapi Gus Dur, Yap Thiam Hien, atau Suster Brigitta tidak punya kamus seperti itu. Mereka punya keberanian yang agak ‘kurang ajar’ bagi standar politik hari ini:
1. Independensi Mutlak
Kepercayaan publik lahir bukan karena mereka pandai dandan di media sosial, tapi karena semua orang tahu mereka tidak bisa ‘dibeli’ dengan sekeranjang kenyamanan atau janji jabatan.
2. Menegur Kawan
Mereka sanggup menegur teman sepihak jika teman itu sudah mulai melenceng dari rel kebenaran. Bagi mereka, kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh kesetiakawanan yang keliru.
3. Membela Lawan
Mereka sanggup pasang badan untuk lawan yang diperlakukan tidak adil. Gus Dur membela mereka yang terstigma, Yap Thiam Hien membela lawan ideologinya demi tegaknya hukum, dan Suster Brigitta melindungi nyawa mereka yang secara identitas dianggap ‘seberang’.
Mari kita memotret lebih dekat ‘kenekatan’ mereka dalam menjaga timbangan keadilan agar tidak miring ke kanan maupun ke kiri. Membicarakan Gus Dur, Yap Thiam Hien, atau Suster Brigitta Renyaan itu seperti membicarakan orang yang hobi berjalan melawan arus air terjun.
Mereka tidak sekadar berwacana soal keadilan di seminar-seminar hotel berbintang. Mereka melakukannya dengan tindakan yang sering kali membuat kawan sendiri geleng-geleng kepala dan musuh sendiri jadi segan.
Gus Dur: Memungut yang Terbuang
Gus Dur itu puncaknya sikap ngemong. Beliau punya nyali untuk membela kelompok-kelompok yang oleh negara sudah dicap ‘terlarang’ atau ‘subversif/makar’. Saat orang-orang ketakutan bicara soal tragedi kemanusiaan, Gus Dur justru melangkah meminta maaf atas nama kemanusiaan.
“Gus Dur tidak tanya apa agamamu atau apa partaimu untuk membelamu. Beliau cuma tanya: apakah kamu sedang dizalimi?”
Jika kawan-kawannya mendesak untuk menjaga jarak aman demi stabilitas, Gus Dur justru mendekat ke mereka yang terpinggirkan. Beliau tahu, membela kawan itu biasa, tapi membela orang yang dibenci publik demi prinsip keadilan itu baru namanya integritas.
Yap Thiam Hien: Hukum Bukan Alat Pukul
Lalu ada Yap Thiam Hien. Pengacara yang satu ini adalah personifikasi dari timbangan yang tidak bisa miring sejengkal pun. Beliau pernah membela orang-orang yang secara ideologi adalah musuh bebuyutannya.
Yap membela siapa saja yang hak asasinya diinjak, tak peduli apakah kliennya itu komunis atau jenderal, tersangka koruptor atau teroris.
Bayangkan, beliau adalah pengkritik keras komunisme, tapi dengan lantang membela para tokoh PKI di pengadilan demi tegaknya prosedur hukum yang adil. Beliau juga tidak segan membela para aktivis yang berseberangan dengan penguasa Orde Baru, meski risiko penjara selalu mengintipnya.
Sikapnya jelas, “Saya tidak membela ideologimu, saya membela hakmu sebagai manusia untuk mendapatkan peradilan yang jujur.”
Bagi Yap, hukum bukan alat untuk memukul lawan, tapi alat untuk mengukur kebenaran. Kalau ukurannya salah, dia akan teriak, peduli setan siapa yang sedang diukur.
Suster Brigitta: Menembus Garis Api
Di Timur, Suster Brigitta memperlihatkan bahwa keberanian itu tidak butuh pangkat jenderal. Di tengah Ambon yang saat itu mendidih oleh dendam komunal, beliau melakukan hal yang dianggap ‘bunuh diri’ oleh logika perang.
Beliau menembus garis barikade, masuk ke wilayah-wilayah yang dianggap ‘musuh’ untuk membawa obat-obatan dan bantuan makanan. Beliau melindungi warga Muslim yang terjebak di kantong Kristen, dan begitu pula sebaliknya.
Ketika kawan-kawan satu imannya mulai terpancing kebencian, beliau berdiri di depan dan mengingatkan: “Hentikan, ini bukan suara Tuhan, ini suara amarah.”
Beliau berani dimusuhi oleh kelompoknya sendiri karena menolak ikut dalam arus permusuhan. Bagi beliau, menyelamatkan satu nyawa manusia jauh lebih suci daripada memenangkan sebuah pertempuran.
Ketika ‘Kita’ Menjadi Penjara
Masalah kita sekarang adalah kita terlalu setia pada ‘kita’. Kita terjebak dalam fanatisme buta yang menganggap kawan pasti benar dan lawan pasti salah. Akibatnya, keadilan kita menjadi keadilan yang pilih kasih.
Figur-figur di atas mengajarkan satu hal: Keadilan itu buta warna. Mereka tidak melihat warna baju, warna kulit, atau warna bendera. Mereka bertindak karena melihat ada manusia yang sedang dikecilkan dan dikucilkan. Mereka berani berhadapan dengan teman di pihak yang sama karena bagi mereka, kebenaran tidak boleh dikalahkan oleh kesetiakawanan yang keliru.
Tanpa figur yang berani ‘tidak populer’ di mata kelompoknya sendiri demi membela kebenaran universal, kita hanya akan terus berputar dalam lingkaran dendam. Kita butuh manusia-manusia yang sanggup berkata kepada kawannya sendiri: “Aku menyayangimu sebagai kawan, tapi aku lebih menyayangi keadilan.”
Kerinduan pada Sosok Penengah
Masalahnya, sekarang ini kita seperti hidup di dalam ruangan penuh cermin yang retak. Kita sulit menemukan wasit yang adil karena wasitnya pun sering ikut pakai jersey salah satu tim di bawah meja.
Ketiadaan figur independen membuat kita mudah curiga. Siapa yang bicara benar, dianggap sedang ikut skenario. Siapa yang bicara kritis, dianggap sedang cari panggung. Bangsa ini hanya akan menjadi kerumunan yang sibuk berteriak, saling sikut, tanpa pernah benar-benar sampai ke tujuan.
Pada akhirnya, kita harus sadar bahwa sila ‘Persatuan Indonesia’ itu mustahil dibangun di atas fondasi kecurigaan. Bagaimana mungkin kita bisa seirama mengangkat beban bangsa yang berat ini, kalau krisis kepercayaan melumpuhkan tubuh bangsa?
Maka, mengatasi krisis bangsa ini sebenarnya dimulai dari satu langkah sederhana namun mahaberat: memberanikan diri menjadi manusia merdeka di lingkungan kita masing-masing. Menjadi pribadi yang berani jujur pada kawan, dan tetap adil pada lawan.
Tugas kita sekarang bukan cuma menanti figur-figur itu turun dari langit. Tapi setidaknya, mari belajar sedikit saja untuk berani berkata: “Dia memang lawan saya, tapi memperlakukannya dengan tidak adil adalah kesalahan yang tidak akan saya biarkan.”
Sanggup? Nah, di situ letak seninya menjadi manusia. (*)