JAKARTA, AFU.ID — Menghadapi Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026 bukan sekadar soal meredam permainan kolektif lawan. Tantangan terbesar Inggris justru bernama Erling Haaland, striker yang menjadi pusat serangan sekaligus pembeda dalam setiap pertandingan tim asuhan Stale Solbakken. Jika Haaland berhasil dimatikan, peluang Inggris melaju ke semifinal akan terbuka lebih lebar.
Pelatih Inggris Thomas Tuchel tentu memahami ancaman tersebut. Norwegia memang masih memiliki pemain berkualitas seperti Martin Odegaard, Sander Berge, dan Orjan Nyland, tetapi kontribusi Haaland jauh melampaui pemain lainnya. Sepanjang Piala Dunia 2026, penyerang berusia 25 tahun itu mencetak sekitar 58 persen dari total gol Norwegia dan terlibat dalam sepertiga peluang yang berhasil diciptakan timnya.
Besarnya pengaruh Haaland juga terlihat dari statistik pertandingan. Sejak kalah dari Austria pada UEFA Nations League 2020, Norwegia nyaris tak tersentuh kekalahan ketika Haaland bermain penuh bersama timnas. Sebaliknya, saat sang striker absen, seperti ketika dihajar Prancis 1-4 di fase grup, Norwegia kehilangan ancaman utamanya di lini depan.
Keistimewaan Haaland bukan hanya terletak pada postur 195 sentimeter atau kecepatannya saat berlari. Striker Manchester City itu dikenal sangat efisien karena jarang menyentuh bola tanpa tujuan. Ia lebih banyak bergerak mencari ruang, membaca posisi lawan, lalu menyelesaikan peluang hanya dengan satu sentuhan yang sering kali sulit diantisipasi bek maupun kiper.
Efisiensi itulah yang membuat Haaland berbeda dari kebanyakan penyerang elite. Dari 18 peluang yang diciptakannya selama turnamen, 17 di antaranya lahir hanya lewat satu sentuhan. Dua gol ke gawang Brasil pada babak 16 besar menjadi contoh bagaimana ia mampu melepaskan diri dari kawalan tanpa harus mendominasi penguasaan bola.
Melihat karakter permainan tersebut, Inggris tampaknya tak cukup hanya menempatkan dua bek tengah untuk mengawal Haaland. Tuchel berpeluang menggunakan skema tiga bek tengah, formasi yang pernah menjadi andalannya saat menangani Chelsea. Konsekuensinya, Inggris harus mengurangi jumlah gelandang dan mengorbankan lebar permainan yang selama ini menjadi kekuatan lewat Bukayo Saka di sisi kanan.
Meski demikian, Inggris masih memiliki referensi untuk meredam Haaland. Maroko dan Swiss menjadi dua tim yang sukses membatasi ruang geraknya dalam laga uji coba sebelum Piala Dunia dengan pendekatan berbeda. Maroko memilih menumpuk pemain di sekitar Haaland hingga rela memberi ruang di sektor sayap, sedangkan Swiss menggunakan tiga bek tengah untuk menutup semua jalur umpan menuju sang striker.
Pertanyaannya, apakah strategi tersebut akan berhasil jika diterapkan Inggris? Jawabannya belum tentu. Sebab, Haaland bukan sekadar penyerang dengan kemampuan fisik luar biasa, tetapi juga memiliki kecerdasan membaca permainan yang membuatnya selalu selangkah lebih cepat dari lawan. Ia mampu mengubah peluang sekecil apa pun menjadi gol, bahkan ketika sepanjang pertandingan nyaris tak terlihat.
Peran Haaland bagi Norwegia pun bisa disejajarkan dengan Lionel Messi bagi Argentina. Ketika suplai bola kepadanya berjalan lancar, kualitas pemain lain di sekelilingnya ikut meningkat. Sebaliknya, jika Inggris mampu memutus aliran bola dan membatasi ruang geraknya, sepertiga kekuatan serangan Norwegia praktis ikut menghilang. Itulah mengapa duel Inggris melawan Norwegia pada perempat final Piala Dunia 2026 kemungkinan besar akan ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: siapa yang memenangkan pertarungan melawan Erling Haaland. (RAI)