JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Kabupaten Bogor menyiapkan pengembangan jalur kereta Parung Panjang-Jasinga untuk mempermudah akses transportasi di wilayah Bogor Barat. Jalur sepanjang sekitar 27,26 kilometer tersebut dirancang memiliki enam stasiun baru dan terhubung dengan Stasiun Parung Panjang. Pengembangan ini diarahkan untuk melayani mobilitas komuter sekaligus menjadi pengumpan menuju jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek.
Pengembangan jalur tersebut adalah hasil kajian awal Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor pada 2025 yang menempatkan trase Parung Panjang-Jasinga sebagai pilihan paling direkomendasikan dari 15 kriteria teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Jalur ini dirancang menggunakan konstruksi at grade dengan jenis rel heavy rail, waktu tempuh sekitar 24 menit, dan dilengkapi enam perlintasan sebidang dan 17 jembatan. Biaya operasional dalam kajian awal diperkirakan berada di kisaran Rp20.000–Rp30.000 per penumpang.
Pengembangan jalur tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas, tetapi juga membuka akses menuju wilayah yang selama ini belum terhubung transportasi massal berbasis rel. Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan, konektivitas yang lebih baik diharapkan ikut mendorong pertumbuhan pusat ekonomi baru di Bogor Barat. "Prinsipnya, kita ingin transportasi menjadi bagian dari pengembangan wilayah," kata Ajat di Cibinong, Minggu (23/8/2026).
Jalur Parung Panjang-Jasinga Jadi Feeder KRL
Dalam rencana pengembangannya, jalur Parung Panjang-Jasinga akan berfungsi sebagai feeder bagi penumpang yang hendak terhubung dengan jaringan KRL Commuter Line Jabodetabek melalui Stasiun Parung Panjang. Pengembangan ini juga dikaitkan dengan rencana menjadikan Parung Panjang sebagai pusat pelayanan kawasan berbasis transit oriented development (TOD), sementara Tenjo diarahkan untuk pengembangan stasiun barang dan konektivitas antarkota maupun perkotaan. Dokumen Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor turut memuat alternatif trase Tenjo-Jasinga sepanjang 18,6 kilometer dengan tiga titik stasiun.
Meski arah pengembangannya sudah disusun, proyek tersebut belum masuk tahap pembangunan fisik dan masih membutuhkan kajian lanjutan. Pemerintah daerah perlu menuntaskan kajian trase, kapasitas, keselamatan, tata ruang, kebutuhan lahan, dampak lingkungan, integrasi antarmoda, hingga kelayakan investasi sebelum proyek dapat berjalan. Tahapannya mencakup prastudi kelayakan, penentuan trase dan konsultasi publik, studi kelayakan komprehensif, Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), desain, pembebasan lahan, penentuan pendanaan, hingga konstruksi dan uji coba sebelum masuk tahap operasional. (RAI)