JAKARTA, AFU.ID - Pembangunan Sekolah Rakyat Aceh 2 di Kota Subulussalam, Aceh, masih menghadapi kendala pengadaan material konstruksi. Meski begitu, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengeklaim progres pembangunan sudah mencapai sekitar 60 persen. Dody mengatakan lokasi Subulussalam yang berada di wilayah perbatasan menjadi tantangan tersendiri dalam proses distribusi material.
Pengiriman baja dan material berat disebut membutuhkan waktu lebih lama karena jarak dari pusat distribusi cukup jauh. “Kita harus mengakui bahwa lokasi Subulussalam cukup menantang dari sisi logistik. Mengangkut material ke sini tidak mudah,” kata Dody dalam keterangannya, Minggu.
Ia menyebut perjalanan darat menuju lokasi proyek juga cukup berat, apalagi untuk membawa material konstruksi dalam jumlah besar. Untuk mempercepat pembangunan, Kementerian PU menyiapkan sejumlah strategi teknis. Salah satunya dengan mengevaluasi penggunaan material baja pada beberapa bagian bangunan.
Dody mengatakan beberapa titik yang semula direncanakan memakai baja akan dipertimbangkan untuk diganti dengan struktur beton. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap material baja yang pengirimannya lebih kompleks.
“Kita sedang mencari metode kerja yang lebih efektif. Beberapa titik yang semula direncanakan menggunakan baja akan kita evaluasi untuk sebagian diganti dengan beton agar pelaksanaan konstruksi bisa lebih cepat tanpa mengurangi kualitas bangunan,” ujarnya. Selain itu, strategi percepatan juga dilakukan melalui pengiriman material lewat jalur laut dan udara, penyediaan batching plant di area proyek, penambahan alat berat, serta dukungan personel TNI.
Berdasarkan laporan per 13 Juni 2026, ketersediaan material di lokasi sudah mencapai sekitar 62 persen. Sementara sisanya masih dalam proses pengiriman menuju Subulussalam. Dody mengaku telah turun langsung ke lokasi proyek pada Sabtu (13/6/2026) untuk mencari solusi percepatan pembangunan.'
Menurutnya, secara keseluruhan pekerjaan Sekolah Rakyat Aceh 2 masih menunjukkan perkembangan positif. Ia menyatakan optimistis proyek tersebut dapat selesai tepat waktu dan segera fungsional. “Kalau melihat kondisi di lapangan, progresnya sudah sekitar 60 persen. Kita akan terus mencari cara terbaik, tercepat, dan paling efektif untuk menyelesaikan pembangunan ini,” kata Dody.
“Yang terpenting bukan hanya cepat selesai, tetapi juga menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang,” sambungnya. Sekolah Rakyat Aceh 2 Kota Subulussalam dibangun di atas lahan seluas 6,8 hektare. Proyek ini dikerjakan PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan nilai kontrak Rp453,3 miliar.
Kawasan pendidikan terpadu tersebut akan dilengkapi gedung SD, SMP, SMA, asrama siswa, rumah susun guru, masjid, gedung serbaguna, lapangan mini soccer, lapangan basket dan voli, serta fasilitas pendukung lainnya. (ANT/FAD)