JAKARTA, AFU.ID — Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Nusa Tenggara Timur (Ditjenpas NTT) menyebut Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Ruteng mengalami kerusakan lebih dari 50 persen akibat gempa bumi yang mengguncang Flores pada Sabtu 15 Agustus lalu. Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Decky Nurmansyah mengatakan terdapat empat Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pemasyarakatan di wilayah Flores yang dipantau pascagempa.
Empat wilayah tersebut meliputi Rutan Ruteng, Rutan Bajawa, Rutan Maumere, dan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Ende. Dari keempat UPT tersebut, Rutan Ruteng menjadi satu-satunya yang mengalami kerusakan signifikan. "Dari pantauan hingga saat ini, ada beberapa gempa susulan. Namun, unit pelaksana teknis tersebut dalam kondisi aman," kata Decky di Kupang, Senin (17/8/2026).
Di Rutan Ruteng, seluruh 171 warga binaan pemasyarakatan (WBP) beserta petugas dipastikan dalam kondisi aman. Pascagempa, para WBP segera diarahkan menuju titik kumpul dan ditempatkan di bangunan yang dinilai lebih kuat menahan guncangan. Hasil pemeriksaan menemukan kerusakan pada sejumlah bagian bangunan dan tembok pembatas, termasuk di sekitar blok hunian lansia dan ruang bimbingan kerja.
Blok B, C, dan D turut mendapat perhatian khusus karena kelayakannya perlu dipastikan lebih dulu sebelum kembali digunakan. Decky mengatakan pihaknya tengah menyiapkan rencana relokasi sementara bagi 171 WBP ke Rutan Bajawa, dengan syarat akses jalan Ruteng-Bajawa dapat dilalui dan kondisi Rutan Bajawa memenuhi persyaratan untuk menampung tambahan penghuni.
Meski demikian, rencana relokasi tersebut masih dalam tahap persiapan mengingat Rutan Bajawa berpotensi mengalami kelebihan kapasitas apabila harus menampung seluruh WBP dari Ruteng. Sementara itu, kondisi Rutan Bajawa sendiri hanya mengalami keretakan pada beberapa bagian bangunan, sedangkan tembok pembatas dilaporkan masih dalam kondisi baik dan situasi keamanan tetap kondusif.
Kondisi serupa juga dilaporkan di dua UPT lainnya. Rutan Maumere mencatat seluruh WBP dan petugas dalam kondisi aman dengan bangunan yang masih layak, sementara Lapas Kelas IIB Ende turut berada dalam kondisi aman dan terkendali pascagempa. Decky memastikan tidak ada korban jiwa dari jajaran UPT Pemasyarakatan yang terdampak gempa, meski sempat ada sejumlah petugas dan WBP yang mengalami luka ringan akibat reruntuhan bangunan.
Ia turut memastikan seluruh kebutuhan dasar WBP, termasuk pasokan makanan, tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat pascagempa. Terkait pemulihan Rutan Ruteng, Decky mengatakan pihaknya telah menerima informasi mengenai rencana alokasi anggaran tanggap darurat dari pemerintah pusat. Namun, pengajuan anggaran tersebut tetap membutuhkan proses pendataan dan pemeriksaan teknis guna menghitung secara akurat tingkat kerusakan serta kebutuhan renovasi yang diperlukan. (NAD)