JAKARTA, AFU.ID - Rusia membuka peluang bagi Indonesia untuk mengirim warga negaranya mengikuti program pelatihan kosmonaut hingga terbang ke luar angkasa. Tawaran akan dibicarakan lebih intensif antara Jakarta dan Moskow dalam memperluas kerja sama di bidang antariksa. Duta Besar Rusia untuk Indonesia Sergei Tolchenov mengatakan kemungkinan pengiriman antariksawan Indonesia telah menjadi salah satu topik yang dibahas antara lembaga terkait kedua negara.
Menurutnya, apabila Indonesia benar-benar memutuskan untuk mengirim seorang warga negaranya ke luar angkasa, Rusia melalui Roscosmos siap membangun kerja sama untuk mewujudkannya. “Kenapa kita tidak bisa mengirim astronaut Indonesia? Kalau saja dia bisa terbang ke luar angkasa dengan pesawat antariksa Rusia, hal itu akan sangat baik,” kata Tolchenov dalam wawancara dengan RIA Novosti, dikutip Afu.id, Sabtu (16/8/2026).
Pada Mei 2026, Wakil Perdana Menteri Pertama Rusia Denis Manturov juga menyatakan Rusia memiliki kompetensi dan pengalaman yang diperlukan untuk mempersiapkan sekaligus menyelenggarakan penerbangan kosmonaut pertama Indonesia. Hal itu disampaikan dalam Sidang Komisi Bersama Rusia-Indonesia bidang kerja sama perdagangan, ekonomi, dan teknis.
Pembicaraan mengenai program kosmonaut Indonesia juga telah muncul dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow pada April 2026. Menteri Luar Negeri Sugiono mengatakan kedua pemimpin membahas kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk kemungkinan Indonesia mengirim individu terpilih mengikuti program kosmonaut Rusia.
Rusia punya segudang pengalaman dalam menerbangkan warga negara asing melalui program kerja sama antariksa yang berawal dari era Uni Soviet. Salah satu contoh dari Asia adalah Vietnam. Pham Tuan menjadi warga Vietnam sekaligus orang Asia pertama yang terbang ke luar angkasa ketika mengikuti misi Soyuz 37 pada 1980. Program serupa juga membawa warga Mongolia ke orbit. Jügderdemidiin Gürragchaa terbang bersama misi Soyuz 39 pada 1981. Sementara itu, Malaysia mengirim Sheikh Muszaphar Shukor ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2007 menggunakan Soyuz TMA-11.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebelumnya menggandeng Roscosmos untuk mematangkan rencana pembangunan bandar antariksa pertama Indonesia. Salah satu lokasi yang dikaji adalah Pulau Biak, Papua, yang memiliki posisi geografis dekat dengan garis khatulistiwa. Lokasi tersebut dinilai strategis untuk kegiatan peluncuran karena kebutuhan energi peluncuran menuju orbit dapat lebih efisien.
Pada April 2026, BRIN juga memperkuat komunikasi dengan Roscosmos dalam upaya mempercepat pengembangan bandar antariksa Biak. Kepala BRIN Arif Satria menyebut Rusia sebagai salah satu mitra penting Indonesia dalam membangun ekosistem antariksa nasional. Kerja sama Indonesia-Rusia di bidang antariksa sebenarnya telah memiliki dasar hukum. Pemerintah kedua negara mengesahkan perjanjian mengenai kerja sama eksplorasi dan pemanfaatan ruang angkasa untuk tujuan damai melalui Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2010. (EER)