JAKARTA, AFU.ID — Indonesia segera memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Pemerintah menargetkan kapasitas pembangkit nuklir nasional mencapai 7 gigawatt (GW) dan rencana tersebut telah masuk dalam pemetaan rencana induk energi nasional. Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan target tersebut dalam agenda International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026). “"Pilar lain dari program energi kita adalah nuklir,” kata Hashim.
Hashim mengatakan informasi mengenai target kapasitas 7 GW tersebut diperolehnya dari Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo. Target tersebut telah dimasukkan dalam rencana induk energi nasional. Rencana pembangunan PLTN tersebut bukan muncul secara tiba-tiba. Pada Februari 2026, Hashim sebelumnya menyampaikan pemerintah akan memulai pembangunan pembangkit nuklir dengan kapasitas awal 500 megawatt (MW), kemudian ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai 7 GW pada 2034.
Dengan target tersebut, kapasitas awal PLTN yang akan dikembangkan adalah 500 MW. Kapasitasnya kemudian akan ditambah secara bertahap hingga total 7.000 MW pada 2034. Selain kapasitas 7 GW, pemerintah juga tengah menyiapkan tahapan penting lainnya sebelum pembangunan PLTN direalisasikan. Pemerintah menargetkan lokasi atau tapak PLTN pertama dapat ditetapkan paling lambat pada 2027. Penetapan tapak menjadi salah satu tahap penting sebelum teknologi pembangkit ditentukan. "Indonesia ingin memulai program kemandirian energi, dan apa artinya itu? Ini berarti kita ingin melepaskan diri dari bahan bakar fosil,” ucap adik Presiden Prabowo ini.
Sebelumnya, pemerintah juga telah menyebut Sumatra dan Kalimantan sebagai wilayah yang masuk dalam kajian lokasi pembangunan PLTN. Dalam rencana ketenagalistrikan sebelumnya, pembangunan pembangkit nuklir dengan kapasitas awal 500 MW juga telah dimasukkan dalam agenda pengembangan listrik nasional. Pengembangan energi nuklir menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menambah pasokan listrik sekaligus mendukung transisi energi. Program tersebut akan berjalan bersama pengembangan sumber energi lainnya, termasuk tenaga surya, panas bumi, dan tenaga air.
Hashim sebelumnya juga mengungkapkan pemerintah menyiapkan pengembangan energi surya dengan kapasitas terpasang yang jauh lebih besar. Dengan demikian, nuklir ditempatkan sebagai salah satu bagian dari bauran energi nasional, bukan sebagai satu-satunya sumber pembangkit baru. Jika target 7 GW terealisasi secara bertahap hingga 2034, Indonesia akan mulai memasuki era pembangkitan listrik komersial berbasis nuklir.
Saat ini Indonesia belum memiliki PLTN komersial yang beroperasi, meski telah memiliki fasilitas penelitian dan pengembangan nuklir. Rencana tersebut sekaligus menandai perubahan besar dalam peta energi Indonesia. Pemerintah kini tidak hanya mengandalkan pembangkit berbasis fosil dan energi terbarukan, tetapi juga memasukkan tenaga nuklir dalam perencanaan kapasitas pembangkit jangka panjang. (EER)