Penulis: Raihan Immaduddin
JAKARTA, AFU.ID — Penembakan pilot asal Amerika Serikat Nicholas F. Goselin dan pembakaran pesawat milik PT AMA di Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua, mendorong memperkuat pengamanan di sejumlah wilayah rawan. Penambahan personel dan pos keamanan Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan difokuskan pada kawasan yang selama ini belum memiliki penjagaan, terutama di jalur penerbangan perintis.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III Letnan Jenderal Lucky Avianto mengatakan evaluasi dilakukan setelah ditemukan masih ada lokasi yang belum dijangkau aparat keamanan. Menurutnya, kawasan Balinggaman yang menjadi lokasi penembakan pilot merupakan salah satu wilayah tanpa pos pengamanan. "Memang benar di Balinggaman yang menjadi tempat kejadian perkara penembakan pilot Nicholas Gosselin tidak ada pos pengamanan," kata Lucky, Minggu, (5/7/2026).
Ia menjelaskan pos aparat terdekat berada sekitar 40 kilometer dari lokasi kejadian dengan medan pegunungan yang sulit dilalui. Kondisi tersebut dinilai serupa dengan insiden penyerangan terhadap pesawat Smart Air di Lapangan Terbang Korowai, Kabupaten Boven Digoel, yang menewaskan dua awak pesawat pada Februari lalu.
Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, TNI akan memetakan kembali daerah-daerah yang membutuhkan penambahan pos keamanan, khususnya di wilayah yang menjadi jalur penerbangan perintis. Lucky mengatakan pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Keuskupan Jayapura untuk mengidentifikasi kawasan yang memerlukan penguatan pengamanan. "Mungkin kami bisa berkolaborasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang membutuhkan penambahan dan penebalan aparat," ujarnya.
Sebelumnya, Nicholas F. Goselin tewas ditembak saat menerbangkan pesawat PT AMA di Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo. Selain menewaskan pilot, kelompok bersenjata juga membakar pesawat yang digunakan dalam penerbangan tersebut sehingga aktivitas penerbangan di wilayah itu kembali menjadi sorotan.
Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom, mengklaim aksi tersebut dilakukan oleh TPNPB Kodap XVI Yahukimo. Ia menyebut kelompoknya melarang maskapai beroperasi di wilayah yang mereka kuasai karena menuding pesawat sipil digunakan untuk mengangkut personel dan logistik TNI ke pedalaman Papua. (RAI)