AFU.id

Penanganan Perlintasan Sebidang Andalkan Pinjaman Asing dan Bantuan Pusat

Bagikan:

Penulis: Adriyan Adirizky RahmatReporter: Adriyan Adirizky R

Ringkasan Berita

Penanganan perlintasan sebidang memerlukan percepatan eksekusi demi menekan angka kecelakaan fatal transportasi komuter nasional.Langkah taktis itu menjadi bagian dari strategi mitigasi risiko di titik-titik krusial jalur kereta api seluruh Indonesia.

Penanganan Perlintasan Sebidang Andalkan Pinjaman Asing dan Bantuan Pusat
(Foto: Kementerian PU RI)

Sinkronisasi Data Nasional dan Hambatan Finansial Penanganan Perlintasan Sebidang

Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Kemenhub RI, Allan Tandiono, kini sedang memfinalisasi proses verifikasi data teknis. Validasi terpadu tersebut menyisir sebanyak 1.148 titik rawan di seluruh wilayah Indonesia yang membutuhkan intervensi kedaruratan.

Fokus jangka pendek mengarah pada optimalisasi infrastruktur keselamatan dasar berupa pemasangan palang pintu dan penempatan petugas penjaga. Kemenhub RI menargetkan mobilisasi personel pengaman itu berjalan secara masif mulai bulan Agustus 2026 di berbagai daerah.

Manajemen alokasi finansial dari keterlibatan badan lain akan diimbangi dengan penyediaan anggaran operasional yang memadai. “Kami memastikan eksekusi di lapangan berjalan penuh tanggung jawab, dukungan anggaran dari Danantara akan kami imbangi dengan alokasi biaya operasional dan perawatan agar fasilitas keselamatan yang dibangun tetap terjaga fungsinya,” ujar Allan Tandiono.

Di sisi lain, Jenal Mutaqin yang menjaba sebagai Wakil Wali Kota Bogor menyambut baik intervensi anggaran dari jajaran pemerintah pusat tersebut. Ia mengakui keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) membuat penanganan titik rawan, seperti Jalan MA Salmun dan Kebon Pedes terhambat.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor telah merampungkan dokumen perencanaan teknis terinci atau Detailed Engineering Design (DED) untuk kawasan Kebon Pedes. Kebutuhan dana konstruksi fisik permanen di lokasi padat kendaraan itu diperkirakan menelan biaya sebesar Rp300 miliar.

Jenal Mutaqin berharap, kehadiran Kemenhub dan DPR RI menjadi solusi konkret atas kecemasan mobilitas warga Bogor. “Ini akan menjadi jalan keluar bagi ikhtiar kami untuk memberikan rasa aman bagi mobilitas warga Bogor,” katanya.

Tentu saja, kebijakan penanganan perlintasan sebidang yang komprehensif tersebut harus mampu memotong mata rantai kecelakaan komuter secara signifikan. Keberhasilan proyek bernilai triliunan rupiah itu menjadi pertaruhan besar bagi jaminan keselamatan publik dan kelancaran distribusi logistik lokal. (ADR)

Berita Terkait

Pilihan Redaksi