JAKARTA, AFU.ID - Kiamat Biodiversitas alias keanekaragaman hayati kini tengah mengancam Sungai Ciliwung. Sejumlah 187 spesies ikan yang pernah mendiami sungai sungai sepanjang 120 km yang bersumber di Gunung Pangrango, Jawa Barat, dan bermuara di Teluk Jakarta ini, terancam musnah akibat berbagai pencemaran dan kerusakan yang terjadi.
Ancaman ini diperparah dengan terjadinya ledakan populasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis), yang semakin mendominasi perairan Ciliwung. Kehadiran ikan yang termasuk spesies invasif ini juga menandakan terjadinya kerusakan parah pada ekosistem Ciliwung. Tak hanya badan sungai utama, ikan yang mampu hidup di kondisi ekstrem seperti kekeringan ataupun wilayah tercemar itu juga menguasai perairan anak-anak sungai Ciliwung hingga saluran-saluran air.
Penangkapan ikan sapu-sapu pun dilakukan secara serentak di lima wilayah DKI Jakarta. Total terdapat 68.800 ikan sapu-sapu seberat 6,9 ton yang ditangkap untuk dimusnahkan.
Wilayah dengan hasil tangkapan terbesar adalah Jakarta Selatan (Jaksel), yakni sebanyak 63.600 ekor dengan berat mencapai 5,3 ton. Penangkapan dilakukan di kawasan Pintu Air Outlet Setu Babakan, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok menjamin tidak ada penyelewengan ikan sapu-sapu yang telah ditangkap di Jakarta. Semua hasil tangkapan langsung dikubur oleh petugas.
"Tidak ada penyalahgunaan karena semuanya langsung dikubur dan diawasi oleh tim DKPKP wilayah," kata Hasudungan seperti dikutip detik.com, Minggu (19/4/2026).
KPKP DKI Jakarta memastikan tidak ada ikan sapu-sapu hasil tangkapan petugas yang kemudian dijual secara sepihak ke pedagang. Hasudungan mengatakan proses pemusnahan ikan sapu-sapu telah dilakukan secara ketat.
Terkait sorotan Majelis Ulama Indonesia soal cara pemusnahan–lewat cara dikubur hidup-hidup– yang dinilai menyiksa makhluk hidup, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan akan meminta ahli untuk menyesuaikan tata cara pembasmian ikan sapu-sapu di Jakarta.
"Mengenai pertanyaan tadi ada saran dan kritik dari MUI, nanti saya minta untuk yang ahli untuk menyesuaikan tata caranya," kata Pramono usai menghadiri acara Halal Bi Halal bersama Ikatan Orang Tua Mahasiswa ITB di Jakarta Selatan, Minggu (19/4/2026).
Kiamat biodiversitas berupa invasi ikan sapu-sapu ini, pertama kali diungkap oleh para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan pakar dari IPB University. Awal 2026 lalu, para peneliti BRIN dan pakar dari IPB mulai memberikan peringatan keras bahwa dominasi sapu-sapu di Ciliwung sudah mencapai rasio yang tidak sehat (di atas 80% dari total biomassa ikan di sungai).
Kemudian, pada bulan Maret 2026, muncul kekhawatiran publik mengenai penggunaan daging ikan sapu-sapu secara ilegal untuk bahan pangan olahan (siomay/cuanki), yang memicu investigasi laboratorium terkait kadar logam berat. Peringatan ini segera ditanggapi oleh pihak Pemprov DKI Jakarta.
Sejak Jumat (17/4/2026), Pemprov DKI Jakarta di bawah arahan Gubernur Pramono Anung secara resmi meluncurkan “Operasi Pembersihan Ikan Sapu-Sapu Serentak” di lima wilayah kota. Langkah ini diambil setelah hasil uji lab menunjukkan tingkat residu logam berat pada ikan tersebut melampaui batas aman.
Hasilnya, nyaris 7 ton jumlah ikan sapu-sapu yang berhasil dibersihkan dari badan sungai dan saluran air di seluruh DKI Jakarta. Besarnya angka tangkapan dalam waktu singkat menjadi indikator bahwa populasi ikan sapu-sapu di Jakarta sudah sangat tinggi dan perlu dikendalikan secara serius. Ikan ini dikenal sebagai spesies invasif yang dapat merusak keseimbangan ekosistem sungai.
Berdasarkan hasil uji laboratorium dari sampel ikan sapu-sapu yang berhasil ditangkap dan dimusnahkan di Jakarta Timur, diketahui, ikan sapu-sapu di wilayah DKI Jakarta terindikasi mengandung logam berat, seperti timbal dan merkuri rata-rata di atas 0,3 mg, jauh melampaui ambang batas keamanan konsumsi.
Ditemukannya kandungan logam berat di tubuh ikan sapu-sapu ini jelas menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan sekadar spesies invasif, melainkan sudah menjadi indikator kematian ekologis sungai Ciliwung yang sangat serius.
Ciliwung Bak Sampah Raksasa
"Ciliwung saat ini mengalami 'Ecological Dead-End'. Ikan sapu-sapu bukan hanya pendatang, mereka adalah pemenang dari kegagalan kita mengelola limbah. Mereka tidak memiliki predator alami di sini, sehingga populasinya meledak tanpa kendali,” kata Peneliti Iktiologi (ilmu yang mempelajari ikan secara fisik dan perilaku), Pusat Riset Biologi BRIN, Dr. Gema Wahyudewantoro.
Kondisi Sungai Ciliwung saat ini mencerminkan kondisi memprihatinkan. Ciliwung yang seharusnya menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Bogor-Jakarta, kini seolah berfungsi sebagai "bak sampah raksasa" yang menanggung beban polusi melebihi daya dukungnya. Berdasarkan data dari berbagai lembaga penelitian seperti BRIN, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, serta laporan kolaboratif komunitas seperti Ciliwung Merdeka, kualitas air Ciliwung, terutama dari segmen tengah hingga hilir, secara konsisten berada dalam status cemar sedang hingga berat.
Penyakit kronis sungai ini berasal dari dua sumber utama yaitu limbah domestik (rumah tangga) dan limbah industri. Sekitar 75 hingga 80 persen beban pencemaran berasal dari limbah domestik yang langsung dibuang ke badan air tanpa pengolahan (grey water). Sementara limbah industri didominasi limbah dari industri skala kecil dan menengah (UMKM) seperti industri pencucian pakaian (laundry) dan bengkel yang tidak memiliki instalasi pengolahan limbah (IPAL).
Penelitian BRIN juga menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan mengenai mikroplastik. Bentuk mikroplastik yang mendominasi adalah fiber (benang) dan fragmen (pecahan). Sumbernya berasal dari degradasi limbah plastik di ruang terbuka, sampah plastik, debu kendaraan/ban, serta serat sintetis pakaian yang terbawa ke atmosfer. Dampaknya, hujan di Jakarta pun mengandung mikroplastik.
“Mikroplastik ini berasal dari serat sintetis pakaian, debu kendaraan dan ban, sisa pembakaran sampah plastik, serta degradasi plastik di ruang terbuka,” jelas Peneliti BRIN Muhammad Reza Cordova, seperti dikutip dari laman resmi BRIN.
Kerusakan Ciliwung tidak hanya terjadi di dalam air, tetapi juga di tepiannya (sempadan). Berdasarkan pengamatan spasial, fungsi sempadan sungai telah beralih menjadi pemukiman padat dan lahan beton. Fenomena yang paling nyata adalah hilangnya rumpun bambu secara masif. Secara ekologis, akar bambu berfungsi sebagai pemaku tanah yang paling efektif untuk mencegah erosi dan menyaring polutan sebelum masuk ke sungai.
Penggantian bambu dengan tanggul beton (betonisasi/normalisasi) memang mempercepat aliran air untuk mencegah luapan, namun di sisi lain menghilangkan habitat alami bagi fauna sungai dan memutus siklus interaksi tanah dengan air. Akibatnya, keanekaragaman hayati menurun drastis; spesies asli seperti kura-kura bulus dan berbagai jenis ikan lokal kini sulit ditemukan karena kehilangan tempat memijah.
Kemunculan spesies invasif seperti ikan sapu-sapu, hanyalah rangkaian panjang rantai pencemaran Ciliwung yang tak tertangani dengan baik. Pencemaran yang berat telah mengubah struktur ekologis sungai. "Dalam banyak kasus, meningkatnya populasi ikan sapu-sapu itu bukan sekadar soal invasif. Itu adalah indikator kuat bahwa kualitas air sudah menurun cukup jauh,” ujar Perekayasa Ahli Madya, Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (BRIN) Nur Hidayat, seperti dikutip laman TribunTangerang.com, Jumat (17/4/2026).
Spesies invasif ini memiliki ketahanan luar biasa terhadap logam berat seperti merkuri dan timbal. Kehadiran mereka yang masif menyingkirkan spesies ikan endemik yang tidak mampu bertahan dalam air dengan kadar polusi tinggi. Kondisi ini diperparah dengan banyaknya tumpukan sampah sisa sisa kayu dan kain yang membentuk sedimen padat di dasar sungai, mengubah topografi sungai menjadi lebih dangkal (pendangkalan).
Ikan sapu-sapu juga secara sistemik mengancam eksistensi ikan-ikan endemik Ciliwung seperti Ikan Berot (Macrognathus maculatus), Ikan Baung dan Senggaringan, Ikan Tor/Kancra. “Kita harus melihatnya sebagai sinyal ekologi. Ketika sapu-sapu mendominasi, itu artinya ikan-ikan lokal yang lebih sensitif sudah kalah bersaing karena kualitas air yang buruk,” kata Nur Hidayat.
Ia menambahkan, pengendalian populasi ikan sapu-sapu memang diperlukan, namun tidak akan efektif jika tidak disertai dengan perbaikan kualitas air secara menyeluruh. "Kalau hanya ditangkap saja tanpa memperbaiki sumber masalahnya, maka siklusnya akan terus berulang. Sungai tetap tercemar, dan sapu-sapu akan kembali mendominasi,” ujarnya.
Kembalikan Kebersihan Ciliwung
Mass Eradication, alias pemusnahan ikan sapu-sapu secara masif untuk menekan populasi memang bisa menjadi langkah awal untuk mengembalikan kesehatan ekosistem dan biodiversitas Sungai Ciliwung. Ikan sapu-sapu yang ditangkap, juga tak hanya dimusnahkan begitu saja, tetapi bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair atau pakan ternak (dengan pengawasan ketat terhadap kadar logam berat) agar memiliki nilai ekonomi tanpa harus dikonsumsi manusia.
Namun yang terpenting adalah memperbaiki kualitas air agar ikan-ikan lokal, termasuk ikan predator lokal bisa kembali dilepasliarkan untuk menyeimbangkan populasi secara alami. Para pakar dari IPB University, sudah lama mendesak pemerintah untuk melakukan reformasi total dalam pengelolaan Sungai Ciliwung dengan tidak hanya berfokus pada "normalisasi" (betonisasi/pelebaran), tetapi juga menekankan pada "renaturalisasi" (pemulihan fungsi alami) untuk mengembalikan fungsi biologis sungai.
Pakar IPB menilai kondisi Ciliwung saat ini sudah di ambang kolaps akibat pencemaran tinggi dan penurunan kualitas lingkungan, sehingga pendekatan struktural teknis saja tidak cukup. Renaturalisasi bertujuan mengembalikan ekosistem sungai agar mampu menyaring limbah alami, menahan air, dan memperbaiki kualitas air.
Hal ini berbeda dengan normalisasi yang seringkali melibatkan betonisasi dinding sungai yang dianggap dapat mematikan ekosistem alami. Sebaliknya, renaturalisasi memanfaatkan vegetasi dan bahan alami di bantaran sungai untuk meredam kecepatan air dan menyediakan media infiltrasi.
Pendekatan renaturalisasi diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem sungai dan memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).
Pakar pencemaran dan ekotoksikologi dari IPB University, Prof Etty Riani, membandingkan kondisi tersebut dengan penanganan sungai di Jepang yang dinilai berhasil dalam waktu satu dekade. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak hanya ditopang oleh teknologi, tetapi juga disiplin dan sistem yang kuat.
“Jepang tidak ada kompromi soal bantaran sungai. Alih-alih gedung, mereka membangun ruang terbuka hijau (RTH) atau sarana olahraga yang berfungsi sebagai penampung luapan air saat debit tinggi,” tegasnya, seperti dikutip laman resmi IPB.
Selain itu, Jepang disebut melakukan pembangunan IPAL secara besar-besaran, penegakan hukum yang konsisten, serta edukasi masif hingga ke tingkat masyarakat terkait budaya 3R (reduce, reuse, recycle).
Untuk mencegah kondisi Ciliwung semakin memburuk dalam 20 hingga 30 tahun ke depan, Prof Etty merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Di antaranya pembangunan IPAL berskala besar dengan kewajiban setiap rumah tangga terhubung ke sistem tersebut, serta penataan bantaran sungai melalui relokasi warga ke hunian layak.
Ia juga menekankan pentingnya mengembalikan fungsi sempadan sungai sebagai RTH, melakukan penghijauan di wilayah hulu, serta memperkuat penegakan hukum melalui denda tegas dan sanksi sosial bagi pelanggar.
Selain itu, audit lingkungan terhadap industri di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung perlu dilakukan secara berkala. Pembentukan lembaga khusus lintas wilayah dari hulu hingga hilir di bawah koordinasi pemerintah pusat juga dinilai penting agar pengelolaan sungai lebih terpadu.
Prof Etty menegaskan bahwa upaya pembenahan tidak bisa dilakukan secara instan. “Jika kita serius mengombinasikan pembangunan infrastruktur, ketegasan hukum, dan perubahan perilaku sosial secara berkesinambungan, hasilnya baru akan terlihat dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Tanpa itu, Ciliwung hanya akan menjadi warisan yang semakin kotor bagi generasi mendatang,” pungkasnya
MAR