Jakarta, AFU.ID - Pagi buta di Lembah Mindelo, Maubisse, Timor Portugis (kini bernama Timor Leste), Kapten Prabowo bergegas menemui Mayor Yunus Yosfiah untuk melaporkan perkembangan di lapangan. "Izin, melapor, ada pergerakan rakyat dari selatan dalam jumlah besar," kata Prabowo, Sabtu (30/12/1978).
Belum ada kepastian siapa rakyat yang dimaksud Prabowo. Tetapi Yunus dan Prabowo sama-sama sepakat, aktivitas massa dalam jumlah besar, berarti di antaranya terdapat pasukan Fretilin atau gerilyawan yang mereka buru. Tak menunggu lama, Yunus langsung mengerahkan pasukannya.
Yunus harus menyusun strategi lebih matang sebelum pasukannya terjun. Tidak mau melakukan kesalahan, meski pasukannya hanya berjumlah 350 orang. Namun, pasukan yang ramping justru lebih gesit dan efektif. Perintah Jakarta jelas, tangkap Nicolau dos Reis Lobato hidup atau mati. Gembong Fretilin ini diketahui berada di hutan, namun keberadaan pastinya, tidak ada yang tahu.
Ini sudah hari kesembilan sejak perintah dari Jakarta datang kepadanya, sementara janji lima hari yang ia ucapkan kepada atasannya sudah lewat empat hari. Fakta ini menjadi beban sekaligus momen pembuktian. Pasalnya, dia sendiri yang berjanji untuk menangkap Lobato dalam lima hari. Janji yang terlalu percaya diri, apalagi 8.000 pasukan pun sebelumnya terbukti gagal menyergap Perdana Menteri pertama Timor Portugis—yang kemudian menjadi Presiden Fretilin—ini.
"Danrem saja kaget dengan jumlah pasukan yang saya miliki," kata Yunus dalam wawancara eksklusif dengan AFU ID, di Jakarta, Jumat (19/6/2026).
Mayor Yunus Yosfiah adalah komandan Batalyon Infanteri 744. Yunus menerima mandat untuk menghabisi sisa-sisa pasukan Fretilin di Maubisse Kecil. Jika tidak segera dihabisi, Indonesia khawatir mereka menyusun kekuatan lebih besar. Maka, pucuk pimpinannya harus segera dinetralkan.
Sementara Prabowo, Kapten Infanteri Prabowo Subianto, saat itu merupakan komandan Tim Nanggala 28, sebuah unit intelijen tempur Kopassus yang juga dikerahkan untuk membantu penangkapan Lobato.
Pasukan sudah merangsek ke lokasi yang dilaporkan. Hingga esoknya, Minggu (31/12), Peleton I Kompi B Yonif 744 yang dipimpin oleh Sersan Maudobe terlibat kontak senjata dengan kelompok pengawal Lobato. Pertempuran jarak dekat terjadi di lereng bukit yang licin.
Ketika asap mulai menipis, Sersan Maudobe dan anak buahnya menemukan sejumlah mayat musuh terbaring di tanah berlumpur. Di antara tubuh-tubuh itu, sesosok jasad menarik perhatian Prajurit Dua Guterres, seorang tamtama pembawa radio.
Dengan hati berdebar, ia mendekat. Wajah itu tak asing baginya—itu adalah Nicolau Lobato, Presiden Fretilin yang selama bertahun-tahun menjadi target utama operasi militer. Lobato tewas dengan luka tembak di perutnya.
"Bagaimana kamu bisa memastikan bahwa ini adalah Lobato?" tanya Yunus kepada Guterres sambil melihat foto Lobato untuk mencocokkan apakah mayat itu benar-benar target yang selama ini diburu.
Guterres menjawab dengan ringan, "Lobato adalah guru saya." Guterres dan ratusan anak buah Yunus lainnya memang tentara asli dari Timor Portugis. Mereka direkrut di tahun yang sama, di bawah Komando Gabungan Operasi Seroja (Kogasgab Seroja).
Yonif 744 sendiri beroperasi sebagai satuan tempur elit infanteri di bawah kendali Kodam IX/Udayana (Nusra), dengan tugas langsung dalam operasi pengejaran Fretilin. Mereka direkrut sejak awal 1978 dan mendapatkan pelatihan khusus sebagai satuan raider/elite infanteri.
Banyak yang mendapat pembinaan dan latihan tempur langsung di lapangan oleh tim intelijen dan satuan khusus seperti Kopassandha (sekarang Kopassus) yang terlibat dalam operasi gabungan, termasuk Tim Nanggala di bawah Kapten Prabowo itu.
Misteri Mayat Lobato
Setelah Yunus yakin bahwa mayat itu adalah Lobato, dia langsung menghubungi Jakarta. Panglima ABRI (Pangab) Jenderal M. Jusuf, langsung memutuskan terbang ke Timor untuk memastikan bahwa Fretilin sudah tak punya pimpinan lagi. "Pangab segera mengambil penerbangan pertama yang tersedia menuju Timor," kenang Yunus mengingat peristiwa itu.
Jasad Lobato kemudian dibawa ke Dili untuk diinspeksi oleh pers Indonesia dan para petinggi militer saat itu. Setelah menyerahkan jasad Lobato, tugas Yunus berakhir. Urusan pemulasaran dan proses selanjutnya, sudah di luar kendali Yunus. "Setelah itu jasadnya sudah bukan urusan saya," ungkap Yunus.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya masih menjadi misteri yang menghantui hubungan Timor Leste dan Indonesia hingga hari ini. Beberapa kabar menyebut jenazahnya dibawa ke Jakarta untuk meyakinkan para petinggi militer bahwa target utama mereka benar-benar telah mati. Namun setelah itu, jasad Lobato raib.
Surat kabar di kedua negara berspekulasi: ada yang mengatakan tubuhnya dikubur secara rahasia di Indonesia, ada pula yang menduga kepalanya dipisahkan dan dibawa sebagai bukti, sementara sisa jasadnya ditinggalkan di Dili.
Pada 2003, sisa kerangka tanpa tengkorak ditemukan di halaman belakang rumah Perdana Menteri Mari Alkatiri di Dili. Semua langsung menduga itu adalah Lobato. PBB mengirim fragmen tulang ke laboratorium forensik di Darwin, Australia.
Tes DNA memakan waktu bertahun-tahun, tetapi hasilnya tidak meyakinkan. Tim forensik gabungan Australia-Argentina yang melakukan uji lanjutan di Dili juga gagal menemukan kecocokan. Tulang-tulang itu terlalu lapuk; DNA nuklir tak bertahan.
Mantan Gubernur Lemhanas Andi Widjajanto membeberkan kepada AFU ID, Jumat (19/6), bahwa hingga saat ini pemerintah Timor Leste masih terus mencari mayat Lobato. Dan tentu saja, mereka mencurigai Indonesia yang tahu keberadaannya karena mayat itu terakhir ada di tangan pemerintah Indonesia.
Menurutnya, Timor Leste akan membuka ruang dialog untuk rekonsiliasi dengan Indonesia jika Indonesia menyerahkan mayat pahlawan nasional mereka ini. "Saya bahkan sudah mencari-cari jawabannya, tetapi hingga saat ini belum tahu," ungkapnya.
Menegaskan bahwa Lobato adalah sosok pahlawan paling penting di Timor Leste, Andi mengungkap bahwa sejak tahun 2002, Bandara Udara Komoro, yang merupakan bandara terbesar di sana, diubah namanya menjadi Bandar Udara Internasional Presiden Nicolau Lobato.
Seperti Indonesia yang menjadikan Soekarno sebagai pahlawan paling penting dalam sejarah kemerdekaan, sehingga namanya diabadikan menjadi nama bandara terbesar di Indonesia, mungkin ini juga berlaku untuk Lobato dalam konteks kemerdekaan Timor Leste. (EER)