Jakarta, AFU.ID - Produsen tempe menjerit akibat kenaikan harga kedelai impor seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Langkah yang diambil, tempe diperkecil tetapi tetap dijual dengan harga sama. Kalau tidak, pelanggan enggan membelinya, lantaran daya beli juga ikut menurun.
Produsen turunannya (keripik tempe) juga ikut mengambil langkah. Perajin keripik tempe tidak bisa berbuat banyak kecuali hanya memotong pemasukan mereka akibat tempenya mengecil. Padahal, pemerintah sudah mensubsidi harga kedelai di pasaran.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengancam importir yang berani menaikkan harga. Izinnya akan dicabut dan tidak diberikan rekomendasi impor.
"Kalau menaikkan, izinnya aku cabut dan aku tidak beri izin rekomendasi lagi, karena ada rekomendasinya di pertanian," kata Amran dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Kondisi harga kedelai untuk keberlangsungan usaha perajin tahu dan tempe diminta untuk dapat selalu stabil, terutama pasokan kedelai dari impor. Pemerintah mengingatkan agar para importir kedelai tidak ada yang menaikkan harga dengan semena-mena.
"Sekali lagi, kami akan telusuri kalau terdampak pada perajin, pada produsen tahu dan seterusnya. Jangan menaikkan harga semena-mena," ujar Amran.
Saat ini, rata-rata harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe berdasarkan informasi Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), per 8 Juni secara nasional berada di level Rp11.126 per kilogram (kg).
Di wilayah Jawa, rata-rata harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe masih berada di Rp10.868 per kg. Namun rata-rata harga tertinggi ada yang menyentuh Rp11.100 per kg.
Kendati demikian, rata-rata harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe disebut masih aman. Meski begitu, keluhan soal tingginya harga kedelai ramai diperbincangkan publik.
Plafon harga kedelai yang telah ditentukan pemerintah adalah berupa Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai di tingkat importir maksimal Rp11.500 per kg dan di tingkat konsumen atau perajin tahu dan tempe tidak boleh melebihi Rp12.000 per kg.
Sebelumnya, dalam rapat pembahasan kedelai yang digelar Bapanas, Senin (8/6), Gakoptindo menyampaikan kondisi kenaikan harga kedelai impor masih relatif cukup aman. Rentang kenaikan harga saat itu masih lebih rendah dibandingkan kondisi harga kedelai pada tahun 2022.
Kenaikan harga tempe di pasaran dipengaruhi berbagai komponen lain yang juga ikut naik seperti harga plastik, harga minyak goreng, serta harga BBM. Ini yang meresahkan para perajin tahu dan tempe.
Meski begitu, stok kedelai dalam kondisi aman. Asosiasi importir menyampaikan ketersediaan stok kedelai hingga Juni 2026 sebanyak 450 ribu ton.
Subsidi Menggantung
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pihaknya sedang memantau ketat apa yang sebenarnya menjadi biang kerok mahalnya produksi tahu tempe dan membuat untung pedagang berkurang.
"Ya kita terus memantau, masalahnya apakah karena harga impornya atau bagaimana. Kita nanti lakukan pengawasan, jangan sampai naik terus ya," ujar Budi Santoso ditemui di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Senin (8/6/2026).
Langkah nyata yang dilakukannya adalah menjaga pasokan kedelai tetap terjaga di tengah para perajin tahu dan tempe. Sebab, bila pasokannya rendah, harga pasti juga akan naik. Alhasil, ongkos produksi perajin naik dan membuat penghasilan mereka tergerus.
"Kita carikan solusinya nanti yang terbaik. Tapi yang penting pasokan impornya harus terjaga dulu ya," beber Budi Santoso.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan, kedelai merupakan bahan pangan yang hampir seluruhnya diimpor dari luar negeri. Karenanya, harganya pasti ikut naik seiring naiknya harga energi global.
"Tadi kita putuskan disubsidi Rp2.000 per kilo, pemerintah menyediakan untuk 250.000 ton pertama melalui Bulog," kata Zulhas di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Subsidi itu digelontorkan pemerintah di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dari sebelumnya Rp16.500 menjadi Rp18.000-an per dolar Amerika Serikat (AS).
Meski pelemahan rupiah dari sekitar Rp16.500 menjadi Rp18.000 per dolar AS hanya sekitar Rp1.500, pemerintah memutuskan memberikan subsidi kedelai sebesar Rp2.000 per kilogram.
Zulhas mengatakan, kebijakan subsidi ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto. Para menteri diminta secara sungguh-sungguh menjaga harga dan stok bahan pangan agar tidak membuat masyarakat kesulitan dalam situasi seperti apapun.
"Arahan dari Bapak Presiden agar sungguh-sungguh secara serius memperhatikan kebutuhan sembako untuk rakyat kita," ujar Zulhas.
Meski sudah dijanjikan subsidi kedelai bakal digelontorkan, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengaku belum bisa menyebutkan kapan subsidi itu akan dimulai.
Bulog masih harus mengikuti rapat dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan, dan asosiasi pengusaha kedelai. Rizal mengatakan, subsidi itu nantinya ditujukan untuk pengusaha pengolahan makanan seperti pengrajin tempe dan tahu.
"Jadi tidak dijual di pasar. Tapi dijual langsung ke pengrajin supaya harganya jadi lebih rendah," tutur Rizal. (EER)