Nikmati fitur lengkap distribusi bias, newsletter, pemberitahuan berita
Eksploitasi Air Tanah Picu Banjir Rob, Kolaborasi Riset Teknik Kelautan Gandeng Belanda
Bagikan:
Penulis: Adriyan Adirizky Rahmat · Reporter: Adriyan Adirizky R
Ringkasan Berita
Kolaborasi riset teknik kelautan antarlembaga resmi berjalan demi mengantisipasi ancaman bencana pesisir melalui pemodelan matematika tingkat lanjut.Penguatan kajian mengenalkan metode Penilaian Bahaya Tsunami Probabilistik atau Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA) untuk memetakan risiko kebencanaan secara berkala.
(Foto: BRIN)
JAKARTA, AFU.ID — Kolaborasi riset teknik kelautan antarlembaga resmi berjalan demi mengantisipasi ancaman bencana pesisir melalui pemodelan matematika tingkat lanjut. Penguatan kajian mengenalkan metode Penilaian Bahaya Tsunami Probabilistik atau Probabilistic Tsunami Hazard Assessment (PTHA) untuk memetakan risiko kebencanaan secara berkala.
Melansir website Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Minggu (14/6/2026), agenda strategis tersebut juga membahas mitigasi fenomena penurunan permukaan tanah (land subsidence). Para periset memaparkan draf ilmiah itu dalam forum yang berlangsung di Kota Surabaya, Jumat (12/6/2026) lalu.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Aloysius Bagyo Widagdo, menyebut forum tersebut sebagai momentum penjajakan penting. Ia mengonfirmasi peluncuran awal pembuktian konsep untuk mengukur potensi bencana tsunami di kawasan pantai Indonesia.
“Pertemuan ini menjadi langkah awal yang baik untuk mengembangkan kolaborasi riset, yang ditandai dengan pemaparan konsep awal terkait Probabilistic Tsunami Hazard Assessment atau Penilaian Bahaya Tsunami Probabilistik,” ungkapnya.
Perwakilan Coastal and Urban Risk and Resilience Department IHE Delft Belanda, Ali Dastgheib, turut memaparkan keahliannya mengenai rekayasa pantai. Pihaknya kini tengah berfokus melakukan analisis risiko bahaya banjir gabungan (compound flooding) di wilayah pesisir Brebes, Pekalongan, dan Surabaya.
Ali Dastgheib menjabarkan rekam jejak panjang riset institusinya yang tersebar masif di Pulau Jawa, Kalimantan, hingga Sumatra Selatan. Ia menekankan perlunya intervensi radikal pada akar masalah guna menahan laju penurunan permukaan tanah.
“Mitigasi penurunan permukaan tanah dan memicu banjir pesisir dapat dilakukan dengan menghentikan penyedotan air tanah secara berlebihan yang merupakan penyebab utamanya,” tuturnya.
Pemerintah daerah pun wajib mengimbangi pengendalian ekstraksi air tanah tersebut melalui penyediaan jaringan perpipaan air bersih yang memadai. Pasokan substitusi yang andal akan menghentikan ketergantungan sektor industri dan masyarakat terhadap sumber air sumur dalam.
Sementara itu, sektor wilayah pesisir yang telah terlanjur mengalami penurunan elevasi membutuhkan pembangunan infrastruktur fisik pelindung secara darurat. BRIN menilai, pemasangan tanggul kokoh dan mekanisasi sistem pompa air menjadi solusi mutlak untuk mengalirkan genangan kembali ke area laut.
Pemanfaatan Laboratorium Terpadu dalam Kolaborasi Riset Teknik Kelautan
Perwakilan Departemen Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Umboro Lasminto, menjelaskan misi pencarian peluang kerja sama konkret tersebut. Yang mana, pendanaan riset awal itu bersumber dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menguji model fisik.
Keterbatasan fasilitas laboratorium simulasi eksperimen tinggi gelombang di lingkungan kampus luar menjadi kendala utama riset hidrodinamika. ITS berharap mampu memanfaatkan infrastruktur laboratorium fisik milik BRIN yang sangat representatif untuk mendukung pengujian ilmiah.
Aloysius Bagyo Widagdo pun menyambut baik tawaran tersebut dan mengarahkan mekanisme koordinasi melalui Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi (DIRI). Para periset domestik juga siap bertindak sebagai mitra aktif guna mengeksekusi agenda penelitian bersama di laboratorium.
BRIN turut menyediakan berbagai skema pendanaan kolaboratif terintegrasi bagi para akademisi perguruan tinggi. Opsi pembiayaan meliputi skema Pusat Riset Internasional LPDP, Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi, serta Perjanjian Kerja Sama (PKS).
Implementasi penyusunan proposal riset bersama (joint proposal) ditargetkan mampu menembus program pendanaan tahunan Kementerian Pendidikan Belanda pada 2027 mendatang. Akselerasi program itu memperkuat posisi tawar para ilmuwan Indonesia dalam mempublikasikan karya ilmiah di tingkat global.
Kemitraan strategis tersebut juga membuka peluang pengembangan kapasitas sumber daya manusia lewat program gelar ganda (double degree). Skema jenjang Magister serta Doktor itu sedang dikembangkan secara intensif oleh manajemen ITS bersama IHE Delft Belanda.
Publik berharap kolaborasi riset teknik kelautan tersebut menghasilkan inovasi konkret untuk menyelamatkan kawasan pesisir dari risiko tenggelam. Penguatan jejaring internasional itu menjadi tolok ukur keseriusan Pemerintah RI dalam memitigasi bencana berbasis sains. (ADR)