JAKARTA - AFU.ID, Pidato Presiden Prabowo Subianto di Cilacap, soal Indonesia gelap, dan menyuruh masyarakat untuk kabur ke Yaman, melebar urusannya lantaran mendapat tanggapan dari Rizieq Shihab.
Dalam unggahan di kanal Youtube Islamic Brotherhood Television, dia menyebut narasi soal Yaman itu muncul dari mulut Prabowo karena di Istana ada “Jendral Baliho”.
Menanggapi itu, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman menegaskan hubungannya dengan Rizieq Shihab tidak ada persoalan.
Dia juga membantah bahwa narasi Prabowo soal Yaman itu juga bukan merupakan usulannya.
"Karena itu, sekarang ramai seakan-akan bahwa saya jadi KSP, kemudian akhirnya narasi dari Bapak Presiden itu muncul. Ya, itu bukan, bukan dari saya," ujarnya, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Kembali ke peristiwa masa lalu. Dudung menjelaskan bahwa penurunan baliho di kawasan Petamburan, Jakarta Barat, pada November 2020 saat dirinya menjadi Pangdam Jaya itu menyusul pembekuan Front Pembela Islam (FPI) dibekukan pemerintah.
Menurut Dudung, langkah tersebut saat itu diambil karena adanya narasi yang berpotensi mengganggu persatuan nasional, termasuk ajakan yang dianggap memicu provokasi di tengah masyarakat.
Ia juga menepis anggapan bahwa posisinya sebagai Kepala KSP berkaitan dengan munculnya berbagai narasi politik yang disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto.
Dudung menegaskan dirinya tidak berada di balik isu-isu tersebut.
Dalam kesempatan itu, Dudung mengajak seluruh tokoh bangsa, termasuk Rizieq, untuk bersama-sama menjaga suasana kondusif di tengah situasi global yang penuh tantangan ekonomi dan politik.
Menurutnya, seorang ulama seharusnya menghadirkan kesejukan, menjaga tutur kata, serta tidak memprovokasi masyarakat.
"Marilah kita bangun bangsa ini dengan keteduhan, tidak saling memfitnah, tidak saling mencurigai," katanya.
Dudung menilai stabilitas nasional saat ini perlu dijaga bersama, terutama ketika Indonesia dan negara lain menghadapi dampak situasi global. (ANT/EER)