JAKARTA, AFU.ID — Militer Amerika Serikat merampungkan gelombang baru serangan selama tujuh jam terhadap puluhan sasaran militer Iran di sekitar Selat Hormuz dan kawasan pesisir. Operasi itu menargetkan lokasi rudal, pesawat nirawak, pertahanan pantai, serta kekuatan angkatan laut Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan serangan berakhir pada Selasa (14/7/26) pukul 22.00 waktu Amerika Serikat bagian timur. Pesawat tempur, drone, dan kapal perang dikerahkan untuk menembakkan amunisi berpemandu presisi. “CENTCOM menyelesaikan putaran serangan tambahan terhadap Iran, menghantam puluhan target militer di dekat Selat Hormuz dan wilayah pesisir Iran,”
Selama operasi, militer AS mengincar lokasi peluncuran dan penyimpanan rudal serta drone yang dinilai dapat digunakan untuk menyerang kapal komersial. Sistem pertahanan pesisir dan kemampuan angkatan laut Iran juga menjadi sasaran.
CENTCOM mengeklaim operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam kapal dagang dan awak sipil yang melintasi Selat Hormuz. Namun, militer AS belum memerinci jumlah pasti target yang dihancurkan maupun tingkat kerusakan di setiap lokasi. Pemerintah Iran juga belum mengumumkan jumlah korban dan kerusakan akibat gelombang serangan tersebut. Ledakan sebelumnya dilaporkan terjadi di sekitar Bandar Abbas, Sirik, dan sejumlah kawasan pesisir selatan Iran.
Pada 11 Juli, CENTCOM mengeklaim menghantam sekitar 140 sasaran, sehingga jumlah target yang diserang dalam tiga malam ketika itu melampaui 300 lokasi. Gelombang tambahan ini berlangsung bersamaan dengan pemberlakuan kembali blokade laut terhadap kapal yang menuju atau meninggalkan pelabuhan Iran. Washington menyatakan kapal dari negara lain tetap dapat melintasi kawasan tersebut selama tidak melanggar blokade.
Iran menolak tekanan tersebut dan menyatakan serangan militer serta blokade tidak akan memaksanya kembali ke meja perundingan. Teheran juga melancarkan serangan balasan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk, meski klaim kerusakannya belum seluruhnya dapat diverifikasi secara independen. Rangkaian serangan baru memperdalam keruntuhan kesepakatan sementara yang sebelumnya dimediasi Pakistan. Selat Hormuz kembali menjadi pusat konflik karena merupakan jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia. (RHU)