JAKARTA, AFU.ID — Kementerian Intelijen Iran menangkap 31 orang yang dituduh tergabung dalam empat jaringan terorganisasi yang merencanakan kerusuhan dan sabotase di dalam negeri. Penangkapan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di Timur Tengah, menyusul pertemuan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dengan Presiden Uni Emirat Arab (UEA) yang dilaporkan melibatkan perwakilan 10 negara, insiden di pesawat Flydubai tujuan Tel Aviv, hingga beredarnya kabar dugaan bom bunuh diri di Mekkah yang kemudian dibantah otoritas Arab Saudi.
Penangkapan dilakukan aparat Kementerian Intelijen Iran di Kabupaten Sirjan, Provinsi Kerman, Iran selatan. Dalam pernyataannya, Kementerian Intelijen Iran menyebut empat jaringan tersebut diduga merencanakan tindakan untuk mengganggu keamanan nasional dan merusak fasilitas publik maupun properti swasta. Jaringan-jaringan tersebut disebut menggunakan nama yang dirancang untuk menarik minat remaja dan kaum muda. Para anggotanya diklaim memiliki tugas dan rencana khusus untuk berpartisipasi dalam aksi kerusuhan secara nasional.
Otoritas Iran juga menuding para tersangka telah menyiapkan aksi sabotase dengan memproduksi bom molotov dalam jumlah besar serta membuat peralatan untuk merusak kamera pengawas perkotaan dan perangkat lainnya, seperti diberitakan Tasnim, Sabtu (3/10/2026). Kementerian Intelijen Iran turut mengaitkan para tersangka dengan kerusuhan pada awal Januari. Mereka dituduh terlibat dalam pembakaran gedung gubernuran, perusakan bank dan kantor pemerintah, penghancuran fasilitas publik, serta serangan terhadap kantor polisi dalam upaya memperoleh senjata.
Pemerintah Iran menyebut operasi tersebut sebagai bagian dari upaya membongkar jaringan yang dituding menjalankan agenda pihak musuh untuk menciptakan kekacauan dari dalam negeri. Namun, Tasnim belum merinci identitas seluruh tersangka, nama empat organisasi yang dimaksud, maupun bukti independen untuk memverifikasi tuduhan tersebut.
Rangkaian Kejadian Sebelumnya
Penangkapan tersebut berlangsung ketika dinamika keamanan Timur Tengah kembali menjadi perhatian. Pada akhir September 2026, Anadolu Agency melaporkan pertemuan Netanyahu dengan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan di Abu Dhabi. Mengutip media Israel Channel 14, pertemuan itu disebut diperluas dengan melibatkan perwakilan Amerika Serikat, Arab Saudi, Maroko, Mesir, Kuwait, Bahrain, Libya, dan Oman, selain Israel dan UEA.
Pembicaraan dilaporkan mencakup kerja sama keamanan dan intelijen serta ancaman yang dipersepsikan bersama, termasuk Iran dan kelompok Houthi di Yaman. Namun, rincian tersebut belum seluruhnya dikonfirmasi melalui keterangan resmi negara-negara yang disebut. Belum ada bukti publik yang menunjukkan penangkapan 31 orang di Kerman berkaitan langsung dengan pertemuan tersebut.
Perhatian terhadap keamanan kawasan juga meningkat setelah insiden di pesawat Flydubai yang terbang dari Dubai menuju Tel Aviv pada 30 September 2026. Menurut laporan Reuters dan The Guardian, kapten Smit Machchhar diserang kopilot hingga mengalami luka. Pesawat kemudian dialihkan dan mendarat di Tabuk, Arab Saudi, dengan sekitar 174 orang di dalamnya.
Otoritas UEA memerintahkan penyelidikan untuk mengetahui motif dan kemungkinan unsur terorisme dalam insiden tersebut. Sampai informasi yang dipublikasikan tersedia, belum ada bukti yang menghubungkan insiden Flydubai dengan empat jaringan yang ditangkap Iran. Sementara itu, media sosial diramaikan kabar mengenai dugaan pengebom bunuh diri yang berusaha mendekati Kakbah di Masjidil Haram, Mekkah.
Otoritas keamanan Arab Saudi pada Jumat (2/10/2026) membantah kabar tersebut. Mengutip Anadolu Agency, seorang pria memang ditangkap di Mekkah karena mengganggu orang-orang yang melintas dan menimbulkan ketakutan serta kepanikan. Namun, aparat Saudi menegaskan informasi mengenai dugaan percobaan pengeboman tersebut tidak benar. Tidak ada informasi resmi yang menunjukkan keterkaitan peristiwa itu dengan Iran ataupun penangkapan 31 orang di Kerman.
Rangkaian perkembangan tersebut berlangsung dalam situasi Timur Tengah yang sensitif, ketika isu keamanan, intelijen, sabotase, dan ancaman terorisme kembali menjadi perhatian. Laporan mengenai kerja sama keamanan Israel dengan sejumlah negara regional juga menempatkan Iran dalam konteks persaingan geopolitik yang lebih luas. (EER)