Penulis: Agung Riyadi · Reporter: M. Agung Riyadi
JAKARTA, AFU.ID - Pemerintah Amerika Serikat melakukan tindakan agresif di ranah finansial dengan merampas aset mata uang kripto (cryptocurrency) milik Iran. Nilai aset digital yang disita secara sepihak tersebut sangat fantastis, yakni mencapai hingga 1 miliar dolar AS atau setara dengan Rp17,8 triliun.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan bahwa operasi senyap ini dilakukan dengan sangat rapi, mirip seperti aksi "pencopet" yang langsung mengambil dompet digital milik Teheran tanpa disadari oleh para pemiliknya.
"Saya yakin kami telah merampas aset kripto mereka senilai sekitar 1 miliar dolar AS. Sebagian dari mereka mungkin masih mengetik (di perangkat mereka) saat ini, dan baru menyadari bahwa dompet digital mereka sebenarnya sudah kami ambil," ujar Bessent dalam keterangannya di Hamilton, Kanada, Jumat (29/5).
Bessent menegaskan bahwa perburuan aset ini tidak akan berhenti di dunia digital. Washington kini tengah berkoordinasi erat dengan negara-negara sekutunya di seluruh Eropa untuk memperluas cakupan penyitaan ke bentuk aset fisik berskala besar. Target berikutnya meliputi properti mewah seperti vila dan rumah yang terafiliasi dengan rezim Teheran.
Pemerintah AS berdalih langkah ekstrem ini diambil sebagai upaya untuk memulihkan aset yang mereka klaim telah dicuri oleh pemerintah dari rakyat Iran sendiri.
Selain itu, posisi diplomasi Iran di kawasan Timur Tengah dinilai AS kian menyudut pasca-serangan Teheran ke negara-negara Teluk. Bessent menyebut situasi tersebut justru menjadi bumerang, karena negara-negara Teluk kini berbalik menjadi mitra strategis yang sangat kooperatif bagi AS untuk menjatuhkan sanksi finansial, termasuk dalam memblokir dan membekukan rekening-rekening bank asal Iran di kawasan tersebut.
Di sisi lain, tekanan terhadap perekonomian Iran juga diperketat di sektor energi. Menkeu AS mengklaim bahwa aktivitas di fasilitas ekspor minyak utama milik Iran yang berada di Pulau Kharg saat ini telah lumpuh total.
Kelumpuhan operasional logistik tersebut terjadi menyusul pemberlakuan blokade laut secara ketat yang dilancarkan oleh armada militer Amerika Serikat di sekitar jalur perairan strategis tersebut.
(ANT/MAR)