AFU.ID - Narasi perang di Timur Tengah kembali bergeser. Bukan lagi sekadar soal rudal dan jet tempur, tetapi tentang strategi panjang, kesabaran, dan kalkulasi dingin. Dalam podcast Madilog Forum Keadilan, pengamat hubungan internasional Dina Sulaiman mengurai satu hal yang jarang dibahas: Iran tidak bertindak gegabah karena mereka sudah membaca “psikologi perang” lawannya.
Di tengah ancaman Presiden AS Donald Trump yang ingin “mengembalikan Iran ke Zaman Batu”, respons Teheran justru tak meledak-ledak. Iran memilih menahan diri—bukan karena lemah, tapi karena sadar setiap langkah bisa memicu eskalasi yang jauh lebih besar, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir.
Salah satu poin paling mencolok adalah dugaan bahwa Iran telah mengembangkan kemampuan cyber warfare, termasuk virus yang bisa mengacaukan sistem pertahanan lawan. Jika benar, ini bukan sekadar teknologi, tapi “senjata terakhir” yang disimpan untuk momen paling kritis—perang tanpa ledakan, tapi mematikan sistem.
Menurut Dina, Iran memahami doktrin ekstrem yang diyakini sebagian kalangan di Israel—konsep “jika harus mati, semua harus mati”. Dalam logika ini, serangan frontal justru berisiko memicu kehancuran total. Karena itu, Iran memilih strategi bertahap: melemahkan, menekan, dan menguras.
Fondasi kekuatan Iran sendiri tidak berdiri di satu titik. Ia bertumpu pada tiga hal: ideologi yang mengikat, pendidikan yang melahirkan ilmuwan, dan kesejahteraan dasar yang membuat rakyatnya tetap stabil di tengah embargo. Sejak Revolusi 1979, negara ini ditempa oleh perang panjang melawan Irak—konflik yang didukung kekuatan besar dunia. Dari sana, lahir prinsip kemandirian: tidak bergantung, tidak mudah ditekan.
Di medan perang modern, Iran juga menunjukkan pola yang tidak spontan. Serangan balasan yang terjadi dalam hitungan jam, kesiapan juru bicara multibahasa, hingga produksi propaganda digital—semuanya mengindikasikan satu hal: perang ini sudah dipersiapkan jauh sebelum peluru pertama ditembakkan.
Namun, di balik semua itu, ada pertanyaan besar: kenapa Iran tidak langsung menghantam Israel? Jawabannya sederhana tapi mengerikan—karena mereka tahu konsekuensinya bisa menjadi perang nuklir global.
Di titik ini, perang berubah makna. Ia bukan lagi soal siapa paling kuat menghancurkan, tetapi siapa paling tahan bertahan. Seperti yang diingatkan sejarawan Arnold Toynbee, peradaban tidak runtuh karena serangan, tetapi karena gagal menjawab tantangan.
Dan mungkin, dalam senyap strategi Iran hari ini, dunia sedang menyaksikan satu hal: perang yang tidak dimenangkan oleh ledakan terbesar, tetapi oleh kesabaran paling panjang. (asw)