JAKARTA, AFU.ID - Uni Emirat Arab ( UEA) secara resmi mengumumkan keluar dari Organisasi NEgara-negara Pengekspor Minyak atau OPEC dan aliansi OPEC+. Keputusan ini efektif berlaku pada 1 Mei 2026.
Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei mengatakan negaranya akan memilih langkah fleksibel dalam pemenuhan kebutuhan minyak dunia setelah bebas dari aturan main OPEC. Langkah strategis tersebut belum dikomunikasikan dengan negara lain
Keluarnya UEA terjadi setelah negara tersebut melontarkan kritik terhadap pemimpin de facto OPEC, Arab Saudi, serta negara-negara Arab lainnya. UEA menilai pihak-pihak tersebut tidak melakukan upaya yang cukup untuk melindunginya dari serangan Iran selama perang berlangsung, seperti diberitakan Reuters, Selasa (29/4/2026).
Langkah ini dinilai bukan respons sesaat atas kelangkaan minyak dunia akibat perang di Iran yang mengakibatkan Selat Hormuz ditutup. Sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga setelah Saudi dan Iran, pengamat menilai ini sebagai ancaman serius terhadap pemimpin de facto OPEC, Saudi Arabia.
Kepentingan nasional dan target meningkatkan ekspor minyak hariannya menjadi alasan yang mudah diterima publik. Tetapi menyisakan pertanyaan besar bagi tetangganya, Arab Saudi.
CEO Qamar Energy Robin Mills menjelaskan saat ini OPEC membatasi produksi UEA di angka 3,2 juta barel per hari. Padahal, UEA memiliki kapasitas mesin produksi yang mampu mencapai 5 juta barel per hari.
"Ada selisih kapasitas yang besar yang menganggur. UEA berencana meningkatkan produksi hingga 30 persen, dan itu mustahil dilakukan jika mereka tetap mengikuti aturan main OPEC," ujar Sergey Vakulenko, peneliti senior dari Carnegie Russia Eurasia Center, yang dikutip dari Xinhua News pada Rabu (29/4/2026).
Selain itu, UEA ingin memanfaatkan posisi strategis Pelabuhan Fujairah. Di tengah konflik Selat Hormuz yang kerap terganggu, Fujairah menawarkan jalur distribusi yang lebih aman dan fleksibel bagi UEA untuk menyuplai pasar dunia tanpa hambatan kuota.
Saudi sebagai De Facto Opec
Arab Saudi adalah pemimpin de facto OPEC dan cenderung mendorong strategi "harga tinggi" melalui pemotongan produksi (production cuts) untuk menopang pendapatan anggaran mereka.
Sebaliknya, UEA lebih condong ke strategi "volume tinggi" — memproduksi sebanyak mungkin dengan memanfaatkan kapasitas yang telah mereka investasikan miliaran dolar melalui perusahan minyak nasionalnya ADNOC.
Kuota OPEC membatasi UEA pada 3-3,2 juta barel per hari, padahal kapasitas mereka mendekati 5 juta barel/hari atau lebih di masa depan. Ini adalah perbedaan strategi antara Saudi dan UEA.
Arne Lohman Rasmussen, ketua analist dan penliti di Global Risk Management, seperti dikutip Middle East Eye, Selasa (13/4) mengatakan, “UEA selalu menggunakan strategy peningkatan volume produksi, sementara Saudi lebih pada strategi meningkatkan harga.”
Dua negara ini punya strategi ekonomi yang berbeda karena mempertimbangkan jumlah penduduk dan kapasitas produksi minyak hariannya. Saudi penduduknya mencapai 35 juta dengan produksi minyak hariannya dua kali lipat UEA. Sedangkan UEA, penduduknya hanya 1 juta.
“Artinya, keuntungan minyak milik UEA hanya dibagi oleh sedikit warganya,” ungkapnya.
Di sisi lain, UEA telah berinvestasi besar-besaran terhadap peningkatan hasil produksi minyaknya. Kalau ada pembatasan kuota produksi harian, itu jelas merugikan negara. “Kalau minyak masih di dalam tanah, jelas tidak ada harganya,” kata dia.
Sementara UEA diminta mengontrol produksi hariannya di tengah situasi Selat Hormuz yang belum sepenuhnya stabil, negara OPEC+ seperti Rusia disebut memproduksi minyaknya secara ugal-ugalan.
Aliansi OPEC+ sendiri dibentuk sejak 2017. Dengan ini, memungkinkan Rusia bersama negara-negara OPEC mengatur tingkat produksi minyak mentah dunia untuk menjaga stabilitas harga. Nyatanya Rusia seperti memanfaatkan situasi geopolitik dunia yang terjadi.
William Wechsler, direktu di Rafik Hariri Center and Middle East Programs mengatakan, keputusan ini datang di tengah konteks politik di Yaman di mana Saudi menyerang pasukan koalisi UEA di Yaman.
Saudi adalah negara terbesar di kawasan. Sama dengan UEA, kedua negara ini sama-sama punya ambisi untuk menjadi penguasa kawasan. Dominasi dua negara ini juga sampai pada rebutan pengaruh di Libya. (EER)