JAKARTA, AFU.ID — Harga telur ayam ras terus turun dalam beberapa bulan terakhir. Penurunan itu membuat komoditas tersebut lebih terjangkau bagi konsumen, tetapi mulai menekan peternak karena harga jual di tingkat produsen ikut melemah.
Badan Pangan Nasional menyebut telur ayam ras kembali mencatat deflasi pada Mei 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, deflasi telur ayam ras tercatat 4,29 persen pada April dan meningkat menjadi 5,14 persen pada Mei.
“Sekarang telur turun. Nah, ini kami harus mengangkat lagi ini,” kata Ketut saat dikonfirmasi di Jakarta, Minggu (7/6/2026).
Data pemantauan Bapanas menunjukkan harga telur ayam ras rata-rata Rp27.236 per kilogram pada Maret. Harga itu kemudian turun menjadi Rp25.719 per kilogram pada April, Rp24.688 per kilogram pada Mei, dan kembali melemah menjadi Rp24.424 per kilogram pada awal Juni 2026.
Bapanas menilai tren penurunan tersebut perlu direspons agar usaha peternakan rakyat tetap berkelanjutan. Pemerintah mendorong penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis dan peningkatan konsumsi masyarakat.
Ketut mengatakan pemerintah berupaya menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen dan konsumen. Harga di tingkat peternak perlu dijaga agar tidak terlalu rendah, sementara harga di tingkat konsumen tetap tidak melebihi acuan yang ditetapkan.
Menurut Ketut, Indonesia merupakan negara produsen unggas yang mampu memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Karena itu, harga yang terlalu rendah di tingkat produsen dinilai dapat mengganggu semangat peternak untuk terus berproduksi.
Pemerintah menyiapkan langkah penataan dengan melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi peternak, dan koperasi. Salah satu fokusnya berada di Jawa Timur sebagai sentra produksi telur nasional.
Bapanas juga mendorong optimalisasi penyerapan telur peternak oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi dalam program Makan Bergizi Gratis. Program itu dinilai dapat menjadi salah satu kanal serapan hasil produksi petani dan peternak.
Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional untuk meningkatkan konsumsi telur dalam program Makan Bergizi Gratis. Program tersebut berpotensi menjangkau sekitar 60 juta penerima manfaat.
Penurunan harga telur menjadi dilema bagi pemerintah. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan harga pangan yang terjangkau. Di sisi lain, peternak tetap membutuhkan harga jual yang layak agar produksi tidak terganggu.
Keseimbangan itu perlu dijaga secara terbuka. Jika harga produsen terlalu rendah terlalu lama, peternak kecil berisiko tertekan, sementara konsumen bisa kembali terdampak ketika pasokan melemah dan harga naik lagi. (RHU)