JAKARTA, AFU.ID — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggencarkan pelatihan kerja keliling hingga tingkat kelurahan. Program ini digelar saat jumlah pengangguran di Jakarta masih mencapai sekitar 334 ribu orang pada Februari 2026.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, tingkat pengangguran terbuka DKI Jakarta pada Februari 2026 berada di angka 6,03 persen. Angka itu memang turun dari tahun sebelumnya, tetapi jumlah warga yang belum terserap kerja masih besar.
Pemerintah mencoba menjawab persoalan itu lewat program Mobile Training Unit yang dijalankan Pusat Pelatihan Kerja Daerah Jakarta Timur. Program ini membawa pelatihan langsung ke wilayah warga agar peserta tidak harus datang ke pusat pelatihan.
Kepala PPKD Jakarta Timur Teguh Hendarwan mengatakan program tersebut disiapkan untuk meningkatkan keterampilan warga. Pelatihan diarahkan agar peserta punya bekal masuk dunia kerja atau membangun usaha mandiri.
“Program ini menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan keterampilan masyarakat agar memiliki daya saing yang lebih baik di dunia kerja maupun kemampuan untuk membangun usaha secara mandiri,” kata Teguh di Jakarta, Kamis, (4/6/2026).
PPKD Jakarta Timur menggelar pelatihan berbasis kebutuhan kerja dan potensi usaha masyarakat. Materi yang dipilih mencakup keterampilan jasa, makanan, administrasi, hingga sektor kreatif.
Beberapa pelatihan berjalan di sejumlah kelurahan. Di Utan Kayu Selatan, warga mengikuti pelatihan merias wajah dan penataan rambut.
Di Malaka Sari, pelatihan difokuskan pada pembuatan makanan dan minuman serta roti dan patiseri. Sementara itu, warga Cakung Timur mendapat pelatihan dasar penjahitan busana.
PPKD Jakarta Timur juga membuka pelatihan desainer grafis muda di Rusunawa Jatinegara Barat. Pelatihan junior office administration digelar di Pondok Bambu, sedangkan barista dasar digelar di Pisangan Baru.
Secara keseluruhan, program ini mencakup 12 bidang kejuruan. Mayoritas pelatihan berlangsung selama 20 hari kerja dengan porsi praktik lebih besar dibandingkan teori.
Khusus pelatihan Bahasa Inggris, durasi kegiatan berlangsung 45 hari. Materinya meliputi kemampuan dasar, tata bahasa, berbicara, percakapan, mendengarkan, dan komunikasi kerja.
Teguh mengatakan peningkatan kompetensi warga penting di tengah perubahan kebutuhan industri. Ia berharap pelatihan yang didukung sertifikasi kompetensi nasional dapat membuat peserta lebih siap bersaing.
Namun, tantangan terbesar program ini bukan hanya membuka kelas pelatihan. Pemerintah perlu memastikan lulusan pelatihan benar-benar tersambung ke pekerjaan, usaha, atau pendampingan lanjutan.
Pelatihan kerja keliling dapat membantu warga yang terkendala jarak, biaya, dan akses informasi. Tetapi dengan pengangguran Jakarta yang masih ratusan ribu orang, efektivitas program baru bisa diukur dari berapa banyak peserta yang benar-benar bekerja atau mampu bertahan lewat usaha sendiri. (RHU)